Kamis, 09 Juli 2026

Healing the Nation: Perempuan, Empati, dan Transformasi Peradaban di Tengah Arus Globalisasi

 


Disusun Oleh:
IMMawati Aulia Rahma El Hadi dan IMMawati Indi Awaliyah

Globalisasi telah membawa perubahan signifikan dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Di satu sisi, globalisasi membuka peluang luas bagi perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan komunikasi. Namun di sisi lain, globalisasi juga menghadirkan berbagai tantangan seperti krisis identitas, menurunnya sensitivitas sosial, serta meningkatnya tekanan psikologis yang memengaruhi kualitas kehidupan masyarakat. Dalam konteks tersebut, perempuan memiliki posisi strategis sebagai agen perubahan yang mampu menghadirkan nilai-nilai empati, kemanusiaan, dan ketahanan sosial dalam pembangunan bangsa. Artikel ini membahas peran perempuan dalam transformasi peradaban melalui penguatan empati, penjagaan identitas diri, dan kontribusi aktif dalam ruang sosial maupun global. Konsep Healing the Nation menjadi pendekatan yang menekankan pentingnya pemulihan kualitas manusia sebagai fondasi pembangunan bangsa yang berkelanjutan.

Perkembangan globalisasi telah mengubah wajah dunia menjadi semakin terbuka dan terhubung. Kemajuan teknologi informasi memungkinkan pertukaran pengetahuan, budaya, dan ide berlangsung dengan sangat cepat. Kondisi ini menciptakan peluang besar bagi generasi muda untuk berkembang dan berkompetisi dalam skala global. Namun, di balik berbagai kemudahan tersebut muncul tantangan yang tidak kalah kompleks, seperti degradasi nilai moral, krisis identitas, individualisme, serta menurunnya kepedulian sosial.

Dalam menghadapi dinamika tersebut, perempuan memiliki peran yang sangat penting. Perempuan tidak hanya berfungsi sebagai pendidik pertama dalam keluarga, tetapi juga sebagai penggerak perubahan sosial yang mampu membentuk karakter generasi bangsa. Peran perempuan saat ini telah berkembang melampaui ranah domestik menuju berbagai sektor strategis seperti pendidikan, kesehatan, ekonomi, politik, hingga diplomasi internasional.

Oleh karena itu, penguatan kapasitas perempuan menjadi salah satu langkah penting dalam mewujudkan peradaban yang maju, berkeadilan, dan berkelanjutan. Perempuan yang memiliki integritas, empati, serta kemampuan adaptasi yang baik akan mampu menjadi kekuatan utama dalam menjawab berbagai tantangan global.

B. Perempuan dan Transformasi Peradaban

Sejarah menunjukkan bahwa kemajuan suatu bangsa tidak dapat dipisahkan dari kontribusi perempuan. Berbagai tokoh perempuan telah memberikan pengaruh besar dalam pembangunan masyarakat melalui pendidikan, gerakan sosial, maupun kepemimpinan publik.

Transformasi peradaban pada hakikatnya bukan hanya tentang kemajuan teknologi dan ekonomi, tetapi juga tentang peningkatan kualitas manusia. Dalam proses tersebut, perempuan memiliki keunggulan berupa kemampuan membangun relasi sosial, memahami kebutuhan orang lain, serta menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan nilai-nilai kemanusiaan.

Di era disrupsi saat ini, perempuan dituntut untuk memiliki kompetensi yang seimbang antara kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan spiritual. Ketiga aspek tersebut menjadi modal penting agar perempuan mampu beradaptasi terhadap perubahan sekaligus menjaga nilai-nilai luhur yang menjadi identitas bangsa.

C. Empati sebagai Kekuatan Perempuan

Empati merupakan kemampuan memahami dan merasakan kondisi orang lain sehingga mampu memberikan respons yang tepat terhadap kebutuhan sosial di sekitarnya. Dalam pembangunan masyarakat, empati menjadi salah satu modal sosial yang sangat penting untuk menciptakan kehidupan yang harmonis dan inklusif. Perempuan sering kali memiliki sensitivitas yang tinggi terhadap persoalan sosial, kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan masyarakat. Kemampuan ini menjadikan perempuan berpotensi besar menjadi agen perubahan yang mampu menghadirkan solusi berbasis kemanusiaan.

Di tengah meningkatnya fenomena individualisme akibat perkembangan teknologi dan media sosial, nilai empati menjadi semakin penting untuk dipertahankan. Empati memungkinkan individu untuk membangun solidaritas, mengurangi konflik sosial, serta menciptakan lingkungan yang sehat secara psikologis dan sosial. Melalui empati, perempuan dapat berperan sebagai jembatan yang menghubungkan berbagai kelompok masyarakat sehingga tercipta kolaborasi yang mendukung pembangunan bangsa secara berkelanjutan.

D. Menjaga Identitas dan Integritas di Era Global

Globalisasi memberikan akses yang luas terhadap berbagai budaya dan nilai dari seluruh dunia. Meskipun membuka peluang pembelajaran yang besar, kondisi ini juga dapat menimbulkan krisis identitas apabila individu tidak memiliki fondasi nilai yang kuat. Mahasiswa perempuan sebagai generasi penerus bangsa perlu memiliki kemampuan untuk menyaring berbagai pengaruh global tanpa kehilangan jati diri. Identitas tidak hanya berkaitan dengan budaya dan agama, tetapi juga mencerminkan prinsip hidup, integritas, dan komitmen terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Menjaga identitas bukan berarti menolak perubahan, melainkan mampu beradaptasi secara kritis dan selektif. Perempuan yang memiliki identitas yang kuat akan lebih mampu menghadapi tekanan sosial, tantangan profesional, serta berbagai perubahan yang terjadi dalam kehidupan modern.

E. Healing the Nation: Membangun Bangsa Melalui Pemulihan Kualitas Manusia

Konsep Healing the Nation menekankan bahwa pembangunan bangsa tidak cukup hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi dan pembangunan fisik. Bangsa yang maju membutuhkan masyarakat yang sehat secara mental, emosional, sosial, dan spiritual.

Fenomena meningkatnya stres, kecemasan, polarisasi sosial, serta menurunnya kualitas interaksi manusia menunjukkan perlunya upaya pemulihan yang lebih menyeluruh. Dalam konteks ini, perempuan memiliki peran penting sebagai penggerak budaya empati, pendidikan karakter, dan penguatan kesehatan mental masyarakat.

Proses penyembuhan bangsa dapat dilakukan melalui berbagai langkah, seperti meningkatkan kualitas pendidikan, memperkuat nilai keluarga, membangun budaya saling menghargai, serta menciptakan ruang dialog yang inklusif. Perempuan dapat menjadi aktor utama dalam proses tersebut melalui perannya di keluarga, organisasi, komunitas, maupun institusi publik.

F. Strategi Pengembangan Diri bagi Mahasiswa

Untuk menjadi perempuan yang mampu berkontribusi dalam skala global, mahasiswa perlu mengembangkan berbagai kompetensi yang relevan dengan kebutuhan zaman. Beberapa strategi yang dapat dilakukan antara lain:

1. Meningkatkan literasi dan wawasan global melalui kegiatan membaca, penelitian, dan diskusi ilmiah.

2. Mengembangkan kemampuan komunikasi dan kepemimpinan sebagai bekal dalam membangun pengaruh positif di masyarakat.

3. Menjaga kesehatan mental dan emosional agar mampu menghadapi tekanan kehidupan modern secara produktif.

4. Memperkuat nilai spiritual dan moral sebagai fondasi dalam mengambil keputusan.

5. Aktif dalam kegiatan sosial dan organisasi untuk mengasah empati serta kemampuan bekerja sama.

6. Meningkatkan kemampuan adaptasi terhadap teknologi tanpa mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan.

Dengan pengembangan diri yang berkelanjutan, mahasiswa dapat menjadi generasi yang tidak hanya unggul secara akademik tetapi juga mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat.

Perempuan memiliki posisi strategis dalam proses transformasi peradaban di tengah arus globalisasi yang semakin kompleks. Melalui empati, integritas, dan kemampuan adaptasi, perempuan dapat menjadi agen perubahan yang mampu menghadirkan solusi atas berbagai tantangan sosial yang dihadapi bangsa. Konsep Healing the Nation menawarkan perspektif bahwa pembangunan bangsa harus berfokus pada pemulihan dan penguatan kualitas manusia sebagai fondasi utama kemajuan peradaban. Oleh karena itu, penguatan kapasitas perempuan, khususnya mahasiswa, menjadi investasi penting dalam mewujudkan masyarakat yang sehat, berkeadilan, berempati, dan berkemajuan.

Editor: Aufayasin Aden Az Zahra

Futurologi Gerakan Kepemimpinan IMM Masa Depan: Transformasi Digital, Inklusivitas, dan Diaspora Global Menuju Insan Paripurna


Disusun Oleh:
IMMawan Fahrul Islamsyah

Memasuki abad ke-21, masyarakat global menghadapi berbagai bentuk disrupsi yang ditandai
dengan percepatan digitalisasi, perubahan sosial, transformasi ekonomi, serta berkembangnya
tantangan moral dan krisis kepemimpinan di berbagai sektor kehidupan. Kondisi ini menuntut
lahirnya model kepemimpinan yang tidak hanya adaptif terhadap perubahan zaman, tetapi juga
mampu membangun inovasi, komunikasi yang efektif, dan orientasi sosial yang kuat (Buton,
Trang, & Soepeno, 2025). Di tengah dinamika tersebut, organisasi mahasiswa memiliki peran
strategis sebagai ruang kaderisasi calon pemimpin masa depan yang mampu menjawab tantangan
masyarakat modern.

Dalam konteks ini, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) sebagai organisasi kader
Muhammadiyah dituntut untuk terus melakukan transformasi gerakan agar tidak terjebak pada
aktivitas formalitas yang kurang produktif. IMM perlu membangun paradigma kepemimpinan
futuristik yang berorientasi pada inovasi, keberlanjutan gerakan, dan penguatan nilai-nilai
keislaman. Kepemimpinan masa depan IMM harus diarahkan pada pembentukan kader yang
adaptif, visioner, serta mampu menjadi agen perubahan sosial di tengah perkembangan era
digital dan kompleksitas problem kemanusiaan (Jurnal Manajemen Dakwah, 2025).

Konsep futurologi kepemimpinan IMM pada dasarnya sejalan dengan model kepemimpinan
transformasional yang menekankan kemampuan pemimpin dalam menginspirasi, membangun
budaya organisasi, dan meningkatkan produktivitas anggota organisasi (Bantam et al., 2024).
Kepemimpinan semacam ini penting diterapkan dalam organisasi mahasiswa karena mampu
menciptakan lingkungan kaderisasi yang dinamis, progresif, dan kolaboratif. Selain itu,
kepemimpinan transformasional juga dinilai efektif dalam mendorong inovasi mahasiswa serta
memperkuat budaya organisasi di era digitalisasi (Harahap et al., 2026).

Landasan ideologis kepemimpinan IMM tetap berpijak pada spirit “Ilmu Amaliah, Amal Ilmiah”
yang diwariskan oleh Mohammad Djasman Al Kindi. Prinsip ini menegaskan bahwa
intelektualitas kader tidak boleh berhenti pada tataran teoritis, tetapi harus diwujudkan dalam
tindakan nyata yang bermanfaat bagi masyarakat. Dengan demikian, kepemimpinan IMM masa depan bukan hanya berorientasi pada pengembangan kapasitas akademik, tetapi juga
pembentukan karakter, spiritualitas, dan kepekaan sosial kader sebagai bagian dari gerakan
dakwah Islam Berkemajuan.

Spirit tersebut juga selaras dengan gagasan tajdid KH.Ahmad Dahlan yang menempatkan
pendidikan dan penguasaan ilmu pengetahuan sebagai instrumen utama dalam membangun
masyarakat yang berkemajuan. Oleh karena itu, futurologi kepemimpinan IMM diarahkan untuk
membentuk “Insan Paripurna”, yakni kader yang unggul secara intelektual, matang secara
spiritual, aktif dalam gerakan sosial, serta mampu menjawab tantangan zaman dengan
pendekatan yang inovatif, humanis, dan berlandaskan nilai-nilai Islam..

Transformasi Digital: Kepemimpinan yang Lihai dan Efisien
Salah satu pilar utama dalam futurologi IMM adalah adaptasi teknologi yang radikal. Era
disrupsi menuntut pemimpin IMM masa depan untuk lihai dalam menjalankan organisasi secara
digital, meninggalkan sistem kerja konvensional yang tidak efisien.

Kepemimpinan masa depan akan sangat bergantung pada penguasaan terhadap cloud computing,
big data analytics, dan artificial intelligence untuk manajemen organisasi. Digitalisasi
administrasi, pendaftaran perkaderan berbasis aplikasi, hingga sistem pendataan kader yang rapi
menjadi keharusan untuk meningkatkan transparansi dan kecepatan gerak organisasi. Lebih jauh,
kader IMM disiapkan untuk menjadi Influencer Ideologis yang mampu menguasai narasi di
dunia maya, memerangi hoaks, dan menyebarkan pesan Islam yang moderat dan mencerahkan
melalui platform digital.

Kepemimpinan Inklusif dan Heterogen
Masa depan IMM dicirikan oleh keterbukaan yang semakin luas. IMM tidak lagi dipandang
sebagai organisasi eksklusif, melainkan wadah inklusif yang menghargai pluralitas. Futurologi
kepemimpinan ini mencakup tiga aspek krusial:
1. Keadilan Gender: Kepemimpinan masa depan mendorong sinergi yang setara antara
immawan dan immawati. Tidak ada lagi sekat domestik yang membatasi peran
perempuan; immawati didorong untuk menjadi pemimpin strategis di ruang publik
melalui pendekatan pedagogi feminis yang adil dan transformatif.2. Ramah Disabilitas: Kepemimpinan IMM masa depan menjamin aksesibilitas dan
partisipasi penuh bagi kader penyandang disabilitas. Organisasi berkomitmen
menghilangkan hambatan fisik maupun sosial agar setiap individu memiliki kesempatan
yang sama untuk memimpin dan berkontribusi.
3. Anggota Istimewa (Non-Muslim): Secara revolusioner, IMM membuka ruang bagi
mahasiswa non-muslim sebagai "Anggota Istimewa". Ini adalah manifestasi dari wajah
Muhammadiyah yang inklusif, di mana kolaborasi lintas iman dijalin dalam agenda
keilmuan dan kemanusiaan universal tanpa harus mengaburkan identitas teologis masing
masing.

Kepemimpinan Berwawasan Ekologi (Eco-Leadership)
Futurologi gerakan kepemimpinan IMM masa depan menempatkan Kepemimpinan Berwawasan
Ekologi (Eco-leadership) sebagai bagian penting dari reaktualisasi tugas manusia sebagai
khalifah di muka bumi. Kepemimpinan tidak lagi dipahami hanya sebatas kemampuan
mengelola organisasi atau membangun intelektualitas kader, tetapi juga tentang bagaimana
seorang pemimpin memiliki tanggung jawab moral dan spiritual dalam menjaga
keberlangsungan alam. Dalam perspektif ini, menjaga lingkungan bukan sekadar isu sosial
modern, melainkan bagian dari amanah keislaman yang melekat pada setiap manusia.

Berlandaskan nilai Hifz al-Bi’ah (menjaga lingkungan), kader IMM diarahkan untuk memahami
bahwa kerusakan alam, perubahan iklim, pencemaran, dan eksploitasi sumber daya merupakan
bentuk krisis kemanusiaan yang harus direspons secara serius. Kesadaran ini diperkuat oleh
nilai-nilai Al-Qur’an, khususnya pesan agar manusia tidak melakukan fasad atau kerusakan di
muka bumi. Karena itu, pemimpin IMM masa depan dituntut memiliki kesadaran ekologis yang
tidak hanya teoritis, tetapi juga kritis dan reflektif terhadap realitas sosial.

Eco-leadership dalam IMM juga menekankan pentingnya prinsip mizan atau keseimbangan.
Artinya, pembangunan, kemajuan teknologi, dan pertumbuhan ekonomi tidak boleh dilakukan
dengan mengorbankan kelestarian lingkungan. Pemimpin masa depan harus mampu melihat
bahwa alam bukan hanya objek eksploitasi, tetapi bagian dari kehidupan yang harus dijaga
bersama. Dalam konteks ini, kader IMM diharapkan mampu menjadi pembela kepentingan ekologis, termasuk menyuarakan hak masyarakat terdampak kerusakan lingkungan dan menjaga
keberlangsungan ekosistem bagi generasi mendatang.

Nilai Amar Makruf Nahi Munkar kemudian diterjemahkan dalam bentuk kepedulian dan
keberanian untuk terlibat dalam isu-isu lingkungan. Pemimpin IMM tidak hanya hadir dalam
forum intelektual, tetapi juga menjadi agen perubahan sosial yang berani mengkritik kebijakan
anti-lingkungan, menolak eksploitasi sumber daya alam yang merugikan masyarakat, serta
mengedukasi publik tentang pentingnya menjaga bumi. Perusakan lingkungan dipandang bukan
hanya persoalan ekologis, tetapi juga bentuk ketidakadilan sosial yang mengancam kehidupan
manusia.

Secara praksis, transformasi gerakan ini diwujudkan melalui budaya organisasi yang lebih
berkelanjutan. Konsep Green Event menjadi bagian dari setiap agenda perkaderan dan kegiatan
IMM, seperti pengurangan plastik sekali pakai, pengelolaan sampah terpilah, serta membangun
budaya bersih dan ramah lingkungan di setiap forum. Selain itu, isu krisis iklim, ekoteologi, dan
keberlanjutan juga perlu diintegrasikan ke dalam materi perkaderan agar kader memiliki
wawasan ekologis sejak dini.

Pada akhirnya, kepemimpinan ekologi IMM diarahkan untuk membentuk kader yang visioner,
religius, dan memiliki orientasi jangka panjang terhadap masa depan umat dan bangsa. IMM
berupaya melahirkan pemimpin yang tidak hanya saleh secara spiritual dan kuat secara
intelektual, tetapi juga memiliki tanggung jawab ekososial sebagai penjaga bumi. Dengan
memadukan nilai Islam, kesadaran kemanusiaan, dan semangat keberlanjutan, eco-leadership
menjadi wujud nyata Islam rahmatan lil ‘alamin dalam menjawab tantangan zaman modern.

Diaspora Kader dan Kepemimpinan Global
Visi kepemimpinan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah di era disrupsi abad ke-21 tidak lagi
terpenjara dalam sekat-sekat lokalitas kampus atau rutinitas organisasi yang nir-produktif,
melainkan mengalami reaktualisasi radikal menuju Diaspora Global. Pergerakan kader kini
diorientasikan pada penguatan jangkauan yang melintasi batas teritorial, di mana organisasi
berfungsi sebagai anak panah yang siap diluncurkan ke berbagai lini peradaban mondial.

Kader IMM ditempa secara sistematis untuk menjadi Insan Paripurna yang memiliki kompetensi
Global Citizenship (kewargaan global). Sebagai representasi dari masyarakat ilmu, mereka disiapkan untuk memiliki keunggulan kompetitif yang mencakup penguasaan bahasa
internasional, literasi digital yang adaptif, hingga kecakapan diplomasi strategis. Hal ini
memungkinkan pimpinan masa depan Ikatan untuk bersaing secara profesional dan elegan di
panggung internasional, tanpa kehilangan pijakan nilai teologisnya.

Ikhtiar internasionalisasi perkaderan diwujudkan secara konkret melalui penguatan jejaring
Pimpinan Cabang Istimewa Luar Negeri (PCILN) yang kini tersebar di berbagai belahan dunia.
PCILN bukan sekadar perluasan struktur, melainkan instrumen soft diplomacy untuk
mensyiarkan Risalah Islam Berkemajuan (RIB) kepada masyarakat global. Melalui
internasionalisasi ini, IMM berkomitmen menghadirkan dakwah Islam yang kosmopolit,
moderat, dan inklusif demi mewujudkan tata dunia yang ramah, adil, dan damai.

Pemimpin masa depan IMM adalah perwujudan dari Intelektual Organik yang mampu
menjembatani "bahasa langit" (wahyu) dengan "bahasa bumi" (kenyataan sosial-teknologi).
Mereka adalah para profesional ahli—baik dokter, insinyur, maupun praktisi hukum—yang
berdiaspora di berbagai lembaga internasional, birokrasi pemerintahan, serta sektor swasta
global. Meskipun berkiprah di ruang-ruang profesional yang heterogen, mereka tetap membawa
DNA ideologi Muhammadiyah yang murni. Kehadiran mereka di seluruh lini kehidupan
bertujuan untuk melakukan transformasi sosial yang berkeadilan melalui gerakan humanisasi,
liberasi, dan transendensi demi terwujudnya khairu ummah (masyarakat utama) yang dicita
citakan bersama

Metodologi Kepemimpinan Modern: Design Thinking dan ToC
Untuk mewujudkan perubahan yang terukur, kepemimpinan IMM masa depan mengadopsi alat
perencanaan strategis modern:
Design Thinking: Pendekatan pemecahan masalah yang berpusat pada kebutuhan kader,
memungkinkan pimpinan merumuskan program yang benar-benar relevan dan solutif.
Theory of Change (ToC): Digunakan untuk memetakan dampak jangka panjang dari
setiap gerakan organisasi, sehingga kepemimpinan IMM memiliki alur logika yang jelas
dalam mencapai perubahan sosial.Asset-Based Thinking (ABT): Pemimpin diajak untuk fokus pada kekuatan dan potensi
internal organisasi daripada hanya meratapi kekurangan, guna membangun optimisme
gerakan.

Gerakan kepemimpinan IMM masa depan adalah sebuah proses evolusi yang tiada henti (never
ending process). Dengan memadukan religiusitas yang mendalam, intelektualitas yang unggul,
dan humanitas yang inklusif, IMM diproyeksikan menjadi organisasi pencerah di tengah
kegaduhan zaman. Pemimpin masa depan IMM adalah para "Insan Paripurna" yang mampu
menjembatani wahyu dengan kenyataan sosial-teknologi, membawa umat menuju kehidupan
yang lebih sejahtera, adil, dan beradab sebagai bentuk pengabdian tertinggi kepada Allah SWT.

Editor: Aufayasin Aden Az Zahra

Gerakan Perempuan Indonesia


Disusun Oleh:
IMMawati Desy Alnika

Di Indonesia tepatnya pada abad ke-20, organisasi-organisasi perempuan mulai dibentuk tujuannya untuk melawan ketidakadilan terhadap perempuan, baik di bidang politik, sosial, ekonomi, maupun dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu ada upaya untuk memperjuangkan hukum yang lebih adil. Secara umum, feminisme sekarang diartikan sebagai usaha untuk menghapus ketidaksetaraan dan porsi rendah perempuan dalam masyarakat.

Gerakan perempuan indonesia tumbuh dan berkembang sejak masa penjajahan seiring dengan berdirinya organisasi-organisasi perempuan. Dilihat dari sejarah perjalanan, perempuan pernah berperan aktif dan berani dalam dunia politik, selain itu perempuan juga tetap menjalankan perannya sebagai ibu dan istri yang baik selama masa perjuangan melawan penjajahan. Keterlibatan perempuan dalam dunia politik dilakukan supaya mereka bisa menjadi "ibu" yang baik bagi  bangsa indonesia. Oleh karena itu, gerakan perempuan memiliki peran yang penting dalam memperjuangkan hak dan kesetaran perempuan. Dari gerakan inilah muncul tokoh perempuan yang berperan membawa perubahan di berbagai bidang seperti pendidikan, sosial, maupun politik, di antaranya R.A. Kartini, Cut Nyak Dien, Dewi Sartika, dan Nyi Ahmad Dahlan.

Periodisasi Sejarah Gerakan Perempuan Indonesia:

  1. Masa Pra-Kolonial 

Pada masa pra-kolonial, perempuan memiliki posisi yang beragam di Nusantara. Terdapat perempuan yang menduduki posisi pemimpin, serta adanya ruang kepemimpinan dan otoritas sosial bagi perempuan. Tidak semua masyarakat Nusantara menempatkan perempuan sebagai subordinat, bahkan terdapat tradisi yang menolak adat patriarki.


  1. Masa Kolonial 

Pada masa kolonial, perempuan indonesia berada dalam tekanan budaya patriarki. Kolonialisme juga membawa berbagai bentuk ketidakadilan, seperti sistem hukum dan pendidikan yang bias gender, sehingga memiliki akses pendidikan yang terbatas. Selain itu adanya pembatasan ruang gerak perempuan dan lebih diarahkan hanya menjalankan peran domestik.

Selain itu, perempuan sering dipandang sebagai objek atau pelengkap dalam kehidupan sosial. Namun, dalam kondisi tersebut, perempuan mulai menunjukkan perlawanan. Tokoh seperti R.A. Kartini dan Ny. Ahmad Dahlan menjadikan pendidikan sebagai sarana untuk meningkatkan kesadaran sekaligus memperjuangkan kesejahteraan perempuan. Perempuan juga mulai menyuarakan kritik terhadap praktik yang merugikan mereka, seperti perkawinan paksa, poligami, dan pembatasan peran.

  

  1. Tahun 1928 : Perempuan Sebagai Subjek Bangsa

Pada tahun 1928, perempuan mulai menempatkan diri sebagai bagian penting dalam perjuangan bangsa. Momentum ini ditandai dengan adanya kongres perempuan indonesia. Dimana hal ini berhasil dalam menyatukan berbagai organisasi perempuan dari berbagai daerah. Dalam kongres ini perempuan tidak lagi di pandang sebagai objek/pelengkap lagi, tetapi sebagai aktor utama dalam perjuangan nasional. Isu perempuan juga sama dengan isu kebangsaan yang dimana harus diperjuangkan bersama.


  1. Pasca-Kemerdekaan & Tragedi 1965

Pada fase pasca-kemerdekaan pada tahun 1950 kondisi indonesia relatif lebih demokratis sehingga kebebasan sudah cukup terjamin. Pada masa ini perempuan mulai aktif dalam berbagai organisasi dan juga memperjuangkan berbagai isu penting, seperti hak politik perempuan, akses pendidikan, kesejahteraan buruh perempuan, dan perbaikan hukum perkawinan. Pada masa ini juga muncul organisasi perempuan besar dan juga berpengaruh seperti GERWANI (Gerakan Wanita Indonesia). GERWANI juga banyak melakukan kegiatan-kegiatan untuk meningkatkan kesadaran kaum perempuan dalam memperjuangkan hak-hak mereka, baik secara ekonomi maupun politik. Selain itu, GERWANI juga menolak adanya praktik feodalisme yang di anggap merugikan bagi perempuan.


  1. Masa Orde Baru 

Pada masa Orde Baru, perempuan ditempatkan dalam peran terbatas melalui ideologi Ibuisme Negara, artinya sebagai istri dan ibu yang patuh. Dalam ideologi ini perempuan dinilai dan diukur dari perannya dalam keluarga dan dukungannya terhadap suami. Perempuan diarahkan ke ranah domestik, sementara organisasi perempuan dikontrol oleh negara. Perempuan yang kritis dianggap sebagai sebuah ancaman. Selain itu, identitas perempuan juga bergantung pada suami, sehingga mereka lebih diposisikan sebagai pendamping daripada individu yang setara


  1. Era reformasi

Pada Era Reformasi, runtuhnya orde baru membawa perubahan besar, yaitu kebebasan berpendapat, masyarakat sipil menjadi kuat dan negara tidak lagi sepenuhnya otoriter. Perempuan mulai berani mengungkapkan pengalaman yang sebelumnya disembunyikan seperti adanya ketidakadilan. Pada era ini, gerakan perempuan  lebih difokuskan pada isu-isu seperti kekerasan terhadap perempuan,hak reproduksi, dan  buruh migran perempuan. Dalam hal ini menjunjukan bahwa gerakan perempuan membawa perubahan yang besar.


  1. Era Posmodern (Post-Modern)

Pada Era post-modern, pada era ini ditandai dengan tidak ada satu kebenaran atau identitas tunggal, selain itu, teknologi digital juga mengubah hubungan sosial. Dalam kondisi ini, gerakan perempuan menjadi lebih beragam dan kompleks. Tidak lagi memiliki satu bentuk, gerakan perempuan kini mencakup berbagai identitas dengan isu berbeda, seperti perempuan muda, Perempuan difabel, Perempuan adat, dan Perempuan minoritas.


Peta Gerakan Perempuan 

Gerakan Permpuan di Indonesia tidak berdiri satu organisai atau satu ideologi. Gerakan Perempuan tumbuh dari berbagai latar sejarah, agama, politik, kelas sosial, wilayah, dan generasi. Peta Gerakan Perempuan berdasarkan basisnya:

  1. Gerakan Perempuan Berbasis Keagamaan : Aisyiyah, NA, dan Muslimat NU.

  2. Gerakan Perempuan Berbasis Negara Dan Kebijakan : Komnas Perempuan dan birokrasi pro-gander.

  3. Gerakan Perempuan Berbasis LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat).

  4. Gerakan Perempuan Akar Rumput.


Tantangan Yang Dihadapi

  1. Budaya Patriarki 

  2. Kekerasan Berbasis Gender Online 

  3. Kekerasan Berbasis Gender Offline

Di era digital saat ini, gerakan perempuan juga menghadapi tantangan baru, seperti kekerasan berbasis gender online dan diskriminasi di media sosial. Hal tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai apakah teknologi membantu perkembangan gerakan perempuan atau justru memunculkan bentuk ketidakadilan baru. Oleh karena itu, peran generasi muda sangat dibutuhkan dalam mendukung terciptanya kesetaraan gender dan lingkungan yang lebih adil bagi perempuan.

Gerakan perempuan di Indonesia berkembang dari masa ke masa sebagai bentuk perjuangan untuk memperoleh hak, keadilan, dan kesetaraan dalam berbagai bidang kehidupan. Perempuan Indonesia telah menunjukkan peran penting dalam pendidikan, sosial, politik, dan perjuangan bangsa sejak masa kolonial hingga era modern. Perjuangan tersebut dilakukan melalui organisasi perempuan, pendidikan, serta gerakan sosial yang bertujuan meningkatkan posisi perempuan dalam masyarakat. Meskipun telah banyak perubahan dan kemajuan yang dicapai, perempuan masih menghadapi berbagai tantangan seperti budaya patriarki, diskriminasi, serta kekerasan berbasis gender baik secara langsung maupun melalui media digital. Oleh karena itu, perlunya kesadaran untuk mendukung terciptanya kesetaraan gender dan perlindungan terhadap hak-hak perempuan di Indonesia.


Editor: Aufayasin Aden Az Zahra

Kamis, 14 Mei 2026

Perspektif Feminisme dalam Membedah Akar Ketidakadilan Sosial


Disusun Oleh:
IMMawati Ghaisani Putri Nur Isbani

Feminisme sering kali disalahartikan oleh masyarakat luas sebagai sebuah gerakan yang hanya berfokus pada kebencian terhadap laki-laki. Padahal, jika ditelaah lebih mendalam, feminisme sebenarnya merupakan sebuah cara pandang yang mendasar untuk membedah akar permasalahan mengapa ketidakadilan gender masih mendarah daging dalam masyarakat hingga saat ini. Bukan hanya sekadar wacana, feminisme hadir dengan sebuah perjuangan nyata yang bergerak untuk mengubah sistem patriarki. Patriarki sendiri merupakan suatu sistem tatanan hierarki yang selama ini mendominasi struktur sosial kita, di mana kekuasaan cenderung berpusat pada laki-laki dan nilai maskulin ditempatkan pada posisi yang superior dibandingkan dengan nilai-nilai feminin.

Bila kita lihat dari sejarahnya, gerakan feminisme ini mulai berkembang sekitar tahun 1960-an pada saat kaum perempuan mulai sadar secara bersama-sama bahwa mereka berada di dalam posisi yang tertindas oleh nilai-nilai lama. Namun, perlu digarisbawahi bahwa pergerakan ini tujuannya bukan untuk menjatuhkan salah satu pihak, melainkan menciptakan kesetaraan dan keadilan. Kesetaraan sendiri memiliki arti bahwa setiap orang memiliki hak yang sama untuk berkembang, misalnya dalam hal pendidikan atau kesempatan memimpin. Sementara keadilan adalah bagaimana cara memperlakukan setiap orang sesuai dengan porsinya masing-masing, supaya tidak ada lagi beban ganda ataupun kekerasan yang menimpa seseorang hanya karena gender mereka.

Sistem patriarki yang sedang dibicarakan ini ibarat seperti fondasi bangunan yang sudah sangat tua dan mengakar kuat. Karena kekuasaan hanya muncul dari satu sisi, muncullah pembakuan peran yang kaku di mana laki-laki selalu dianggap sebagai pemimpin, sedangkan perempuan sering kali diposisikan sebagai pendukung atau hanya terbatas pada urusan domestik saja. Hierarki inilah yang sebenarnya merusak tatanan sosial kita, karena tidak memberikan ruang bagi setiap individu untuk menjadi dirinya sendiri. Di sinilah feminisme memberikan berbagai sudut pandang untuk membongkar belenggu-belenggu tersebut. Misalnya, melalui sudut pandang eksistensialisme, kita diajak untuk memiliki pandangan bahwa perempuan tidak terlahir lemah, namun sering kali “dibuat lemah” oleh aturan masyarakat. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mulai menerapkan pola asuh yang setara, supaya kita tidak lagi dikotak-kotakkan oleh label gender yang sempit.

Perjuangan ini pun tidak berhenti pada perubahan pola pikir saja, tetapi juga merambah ke ranah yang lebih nyata seperti hukum dan ekonomi. Feminisme liberal percaya bahwa transformasi sosial bisa terjadi jika hukum dan undang-undang diubah menjadi lebih adil, sehingga setiap orang punya kebebasan penuh atas hidupnya sendiri. Sementara itu, dalam pandangan sosialis atau Marxis, patriarki ternyata berkaitan erat dengan sistem ekonomi yang menjebak perempuan sebagai pekerja rumah tangga tak dibayar. Untuk melawan ini, muncul ide tentang keluarga kolektif, di mana urusan domestik atau urusan rumah tangga dikelola bersama agar beban hidup tidak hanya bertumpu pada satu orang. Dengan begitu, kemandirian ekonomi bisa tercapai dan ketergantungan yang timpang bisa dihapuskan.

Namun, dampak terburuk dan sangat nyata yang dihasilkan oleh sistem patriarki adalah kasus pelecehan seksual. Dalam sistem yang menganggap salah satu pihak lebih dominan, sering kali timbul kecenderungan untuk melihat orang lain hanya sebagai objek yang dapat dikontrol. Pelecehan seksual ini tidak mengenal perbedaan jenis kelamin dan bisa terjadi pada siapa pun, baik perempuan maupun laki-laki. Bentuknya pun beragam, mulai dari yang bersifat verbal, seperti catcalling, komentar yang tidak sopan, bercanda yang kelewatan dan merendahkan, hingga yang bersifat nonverbal seperti sentuhan fisik yang tidak diinginkan, menunjukkan konten pornografi, hingga kekerasan fisik yang dapat menyebabkan trauma berat.

Ironisnya, sistem patriarki ini sering kali menciptakan lingkungan yang tidak aman dan nyaman bagi siapa saja karena adanya standar ganda. Di satu sisi, perempuan sering kali disalahkan saat menjadi korban, sementara pihak laki-laki seolah hanya diam tanpa adanya tuntutan untuk membenahi diri atau tanggung jawab yang sama beratnya. Kesenjangan ini menciptakan standar ganda yang tidak adil, seakan-akan keselamatan hanya dikhususkan dan menjadi tanggung jawab korban, sementara tindakan pelaku dianggap sebagai suatu hal yang lumrah dan bisa dimaklumi.

Pada akhirnya, gerakan feminisme digunakan untuk membongkar sistem patriarki bukan berarti kita berperang antar gender, melainkan sedang mengusahakan untuk memanusiakan satu sama lain. Dengan menghilangkan jejak-jejak patriarki ini, sebenarnya kita sedang menciptakan lingkungan yang lebih aman di mana martabat setiap orang bisa dihargai sepenuhnya dan tidak ada lagi ruang bagi kekerasan atau pelecehan untuk berkembang. Hal ini menunjukkan bahwa kesetaraan dan keadilan bukan hanya harapan untuk kaum perempuan, melainkan kebutuhan dasar bagi setiap individu untuk hidup bebas dan bermartabat.


 Editor: Tessa Amelia F.W.