Dalam lembaran sejarah pergerakan nasional Indonesia, sosok
Siti Walidah atau lebih
dikenal sebagai Nyai Ahmad Dahlan seringkali terjebak dalam narasi yang lebih
fokus pada dirinya sebagai “istri pendamping”. Namun, dengan menganalisis
secara kritis dari berbagai literatur tentang gerakan tersebut, kita dapat
menyimpulkan bahwa Siti Walidah adalah seorang revolusioner sejati. Ia adalah
seorang arsitek sosial yang tidak hanya memperjuangkan hak perempuan untuk
bersekolah, tetapi juga memperbarui pemahaman tentang pendidikan dalam konteks
pembebasan manusia.
Pada awal abad ke-20, perempuan Jawa hidup dalam ruang yang
sangat sempit. Tradisi pingitan bukan sekadar pemisahan fisik, melainkan bentuk
pemisahan akal secara sistematis. Di sinilah Siti Walidah hadir dengan argumen
yang mengguncang tatanan
saat itu: bahwa
keterbelakangan perempuan bukanlah takdir teologis, melainkan kegagalan
struktural akibat ketiadaan akses pendidikan.
Beliau memajukan konsep Ekuilibrium atau keseimbangan pendidikan. Dalam pandangannya,
menuntut ilmu bukanlah hak istimewa laki-laki, melainkan kewajiban asasi setiap
insan. Argumennya jelas: sebuah bangsa tidak akan pernah bisa berjalan tegak
jika salah satu kakinya—yakni kaum perempuan—dibiarkan lumpuh dalam kebodohan.
Dengan menjadikan perempuan cerdas, beliau sebenarnya sedang membangun fondasi
bagi "sekolah pertama" (madrasatul
ula) dalam setiap unit keluarga.
Salah satu sumbangan intelektual terbesar Siti Walidah yang
seringkali terabaikan dalam diskursus modern adalah konsep Catur Pusat. Jauh sebelum para ahli pendidikan modern bicara
tentang "ekosistem pendidikan", Siti Walidah sudah menerapkannya.
Pendidikan, bagi Walidah, harus bergerak secara sinergis
dalam empat poros: Keluarga, Sekolah, Masyarakat, dan Masjid. Ia menyadari bahwa memintarkan perempuan di bangku sekolah akan sia-sia jika lingkungan keluarga masih
mengecilkan peran mereka, jika masyarakat masih menstigma mereka,
dan jika tempat ibadah tidak memberikan ruang bagi pertumbuhan spiritual
mereka. Inilah sebuah visi holistik yang memandang manusia sebagai makhluk
sosial sekaligus makhluk Tuhan secara utuh.
Kehebatan Siti Walidah bukan hanya pada teorinya, melainkan pada keberpihakannya pada kelas bawah. Melalui kelompok Sopo Tresno, ia mendekati kaum perempuan dari lapisan buruh batik di Kauman. Strateginya sangat jenius dan pragmatis: ia mendirikan Maghribi School (sekolah malam).
Pilihan waktu malam ini menunjukkan empati yang mendalam
terhadap realitas ekonomi. Beliau tidak ingin pendidikan menjadi beban yang membuat perempuan
kehilangan mata pencahariannya. Melalui Teologi Al-Ashr, beliau
mengajarkan bahwa efisiensi waktu adalah ibadah. Pendidikan tidak boleh
eksklusif bagi mereka yang punya waktu luang; pendidikan harus bisa diakses
oleh mereka yang tangannya masih kasar karena kerja keras.
Perspektif Siti Walidah tentang pemberdayaan sangatlah konkret.
Beliau menekankan pentingnya
penguasaan keterampilan (skill-based
learning) dan manajemen ekonomi bagi perempuan. Baginya, perempuan yang
berdaya secara ekonomi akan memiliki harga
diri dan daya tawar (bargaining power) yang lebih kuat.
Melalui organisasi 'Aisyiyah, beliau mendidik perempuan
untuk tidak hanya pintar mengaji, tetapi juga pintar berorganisasi, berpidato,
dan mengelola dana sosial. Ini adalah langkah dekonstruksi peran gender
yang luar biasa
pada zamannya, di mana suara
perempuan mulai didengar di mimbar-mimbar publik.
Di era globalisasi saat ini, tantangan perempuan berubah namun
esensinya tetap sama: ancaman terhadap eksistensi dan
karakter. Pemikiran Siti Walidah memberikan kompas bagi perempuan modern untuk tetap adaptif terhadap
kemajuan zaman namun tidak tercerabut dari akar moralitas.
Ekuilibrium yang beliau tawarkan adalah solusi bagi
perempuan masa kini yang sering kali
terombang-ambing antara tuntutan karir dan tanggung jawab domestik. Siti
Walidah mengajarkan bahwa kedua peran tersebut tidak harus saling meniadakan,
selama pendidikan yang diterima adalah pendidikan yang memanusiakan, bukan
sekadar mengejar gelar.
Siti Walidah telah membuktikan bahwa revolusi sejati dimulai dari akal. Warisannya berupa ribuan institusi pendidikan 'Aisyiyah hanyalah simbol fisik dari sebuah cita-cita yang lebih besar: Kemerdekaan Perempuan secara Intelektual dan Spiritual. Meneladani beliau berarti berani melawan setiap upaya yang ingin mengembalikan perempuan ke dalam "pingitan modern" berupa pembatasan akses ilmu dan kesempatan. Perjalanan ini belum usai, karena selama masih ada perempuan yang terpinggirkan dari cahaya ilmu, selama itu pula api perjuangan Siti Walidah harus terus dikobarkan.
Daftar Pustaka
Ardiyani,
D. (n.d.). Konsep Pendidikan Perempuan
Siti Walidah. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Fatimah, Ali, S. N., & Sari, A. P. (2025). Peran Siti Walidah dalam
Pemberdayaan Perempuan Melalui Pendidikan di Lingkungan Muhammadiyah. Sulawesi Tenggara Educational Journal,
5(1), 350-357.
Mardiah, N. I., Sadat, L. A., Ihlas, Kusumawati, Y., &
Ramadhan, S. (2022). Analisis Pergerakan Pendidikan Perempuan serta Kiprah Siti
Walidah di Aisyiyah. Tajdid: Jurnal
Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan, 6(1), 123-138.
Nasution, H., Nahar, S., & Sinaga, A. I. (n.d.). Studi Analisis Pemikiran Siti Walidah (Nyai
Ahmad Dahlan) dalam Pendidikan Perempuan. Medan: Pascasarjana Universitas
Islam Negeri Sumatera Utara.
Savira, Z. M., Nurdin, M. N. I., & Sutrisno. (2023). Urgensi
Pendidikan Kaum Perempuan pada Era Globalisasi: Telaah Pemikiran Siti Walidah. Nusantara: Jurnal Pendidikan Indonesia,
3(3), 466-482.



