Selasa, 21 April 2026

Manifesto Peradaban: Membaca Ulang Radikalisme Pendidikan Siti Walidah di Tengah Arus Globalisa

 



Disusun Oleh:
IMMawati Ghaisani Putri Nur Isbani
IMMawati Sri Sulistiani T. Ladjidji
IMMawati Desy Alnika

 

Dalam lembaran sejarah pergerakan nasional Indonesia, sosok Siti Walidah atau lebih dikenal sebagai Nyai Ahmad Dahlan seringkali terjebak dalam narasi yang lebih fokus pada dirinya sebagai “istri pendamping”. Namun, dengan menganalisis secara kritis dari berbagai literatur tentang gerakan tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa Siti Walidah adalah seorang revolusioner sejati. Ia adalah seorang arsitek sosial yang tidak hanya memperjuangkan hak perempuan untuk bersekolah, tetapi juga memperbarui pemahaman tentang pendidikan dalam konteks pembebasan manusia.

 

 

     Melawan Belenggu Struktural: Dari Pingitan ke Pencerahan

Pada awal abad ke-20, perempuan Jawa hidup dalam ruang yang sangat sempit. Tradisi pingitan bukan sekadar pemisahan fisik, melainkan bentuk pemisahan akal secara sistematis. Di sinilah Siti Walidah hadir dengan argumen yang mengguncang tatanan saat itu: bahwa keterbelakangan perempuan bukanlah takdir teologis, melainkan kegagalan struktural akibat ketiadaan akses pendidikan.

Beliau memajukan konsep Ekuilibrium atau keseimbangan pendidikan. Dalam pandangannya, menuntut ilmu bukanlah hak istimewa laki-laki, melainkan kewajiban asasi setiap insan. Argumennya jelas: sebuah bangsa tidak akan pernah bisa berjalan tegak jika salah satu kakinya—yakni kaum perempuan—dibiarkan lumpuh dalam kebodohan. Dengan menjadikan perempuan cerdas, beliau sebenarnya sedang membangun fondasi bagi "sekolah pertama" (madrasatul ula) dalam setiap unit keluarga.

 

     "Catur Pusat": Visi Pendidikan 360 Derajat

Salah satu sumbangan intelektual terbesar Siti Walidah yang seringkali terabaikan dalam diskursus modern adalah konsep Catur Pusat. Jauh sebelum para ahli pendidikan modern bicara tentang "ekosistem pendidikan", Siti Walidah sudah menerapkannya.

Pendidikan, bagi Walidah, harus bergerak secara sinergis dalam empat poros: Keluarga, Sekolah, Masyarakat, dan Masjid. Ia menyadari bahwa memintarkan perempuan di bangku sekolah akan sia-sia jika lingkungan keluarga masih mengecilkan peran mereka, jika masyarakat masih menstigma mereka, dan jika tempat ibadah tidak memberikan ruang bagi pertumbuhan spiritual mereka. Inilah sebuah visi holistik yang memandang manusia sebagai makhluk sosial sekaligus makhluk Tuhan secara utuh.

 

     Sopo Tresno dan Maghribi School: Pendidikan yang Berpihak

Kehebatan Siti Walidah bukan hanya pada teorinya, melainkan pada keberpihakannya pada kelas bawah. Melalui kelompok Sopo Tresno, ia mendekati kaum perempuan dari lapisan buruh batik di Kauman. Strateginya sangat jenius dan pragmatis: ia mendirikan Maghribi School (sekolah malam).

Pilihan waktu malam ini menunjukkan empati yang mendalam terhadap realitas ekonomi. Beliau tidak ingin pendidikan menjadi beban yang membuat perempuan kehilangan mata pencahariannya. Melalui Teologi Al-Ashr, beliau mengajarkan bahwa efisiensi waktu adalah ibadah. Pendidikan tidak boleh eksklusif bagi mereka yang punya waktu luang; pendidikan harus bisa diakses oleh mereka yang tangannya masih kasar karena kerja keras.

 

     Kemandirian Ekonomi sebagai Alat Tawar

Perspektif Siti Walidah tentang pemberdayaan sangatlah konkret. Beliau menekankan pentingnya penguasaan keterampilan (skill-based learning) dan manajemen ekonomi bagi perempuan. Baginya, perempuan yang berdaya secara ekonomi akan memiliki harga diri dan daya tawar (bargaining power) yang lebih kuat.

Melalui organisasi 'Aisyiyah, beliau mendidik perempuan untuk tidak hanya pintar mengaji, tetapi juga pintar berorganisasi, berpidato, dan mengelola dana sosial. Ini adalah langkah dekonstruksi peran gender yang luar biasa pada zamannya, di mana suara perempuan mulai didengar di mimbar-mimbar publik.

 

     Relevansi di Era Disrupsi Global

Di era globalisasi saat ini, tantangan perempuan berubah namun esensinya tetap sama: ancaman terhadap eksistensi dan karakter. Pemikiran Siti Walidah memberikan kompas bagi perempuan modern untuk tetap adaptif terhadap kemajuan zaman namun tidak tercerabut dari akar moralitas.

Ekuilibrium yang beliau tawarkan adalah solusi bagi perempuan masa kini yang sering kali terombang-ambing antara tuntutan karir dan tanggung jawab domestik. Siti Walidah mengajarkan bahwa kedua peran tersebut tidak harus saling meniadakan, selama pendidikan yang diterima adalah pendidikan yang memanusiakan, bukan sekadar mengejar gelar.

Siti Walidah telah membuktikan bahwa revolusi sejati dimulai dari akal. Warisannya berupa ribuan institusi pendidikan 'Aisyiyah hanyalah simbol fisik dari sebuah cita-cita yang lebih besar: Kemerdekaan Perempuan secara Intelektual dan Spiritual. Meneladani beliau berarti berani melawan setiap upaya yang ingin mengembalikan perempuan ke dalam "pingitan modern" berupa pembatasan akses ilmu dan kesempatan. Perjalanan ini belum usai, karena selama masih ada perempuan yang terpinggirkan dari cahaya ilmu, selama itu pula api perjuangan Siti Walidah harus terus dikobarkan.

 Editor: Tessa Amelia F.W.



Daftar Pustaka


Ardiyani, D. (n.d.). Konsep Pendidikan Perempuan Siti Walidah. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Fatimah, Ali, S. N., & Sari, A. P. (2025). Peran Siti Walidah dalam Pemberdayaan Perempuan Melalui Pendidikan di Lingkungan Muhammadiyah. Sulawesi Tenggara Educational Journal, 5(1), 350-357.

Mardiah, N. I., Sadat, L. A., Ihlas, Kusumawati, Y., & Ramadhan, S. (2022). Analisis Pergerakan Pendidikan Perempuan serta Kiprah Siti Walidah di Aisyiyah. Tajdid: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan, 6(1), 123-138.

Nasution, H., Nahar, S., & Sinaga, A. I. (n.d.). Studi Analisis Pemikiran Siti Walidah (Nyai Ahmad Dahlan) dalam Pendidikan Perempuan. Medan: Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sumatera Utara.

Savira, Z. M., Nurdin, M. N. I., & Sutrisno. (2023). Urgensi Pendidikan Kaum Perempuan pada Era Globalisasi: Telaah Pemikiran Siti Walidah. Nusantara: Jurnal Pendidikan Indonesia, 3(3), 466-482.