Selasa, 25 April 2023

Optimalisasi Nilai Profetik Dalam Pengkaderan Ikatan

 Optimalisasi  Nilai Profetik dalam  Pengkaderan Ikatan

Oleh: Ahmada Norma Syinta

    Profetik yang berasal dari gagasan pikiran Prof. Dr.Kuntowijoyo, M.A. yang merujuk dari  sejarah yang beraal dari peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW, dalam peristiwa nya banyak nilai-nilai yang dapat kita ambil untuk kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai yang dapat kita ambil dalam peristiwa Isra’ Mi’raj yang paling mengikat ketika nabi telah naik ke sidrotul muntaa beliau tetap ingat kepada umatnya padahal hakikatnya manusia ketika mendapatkan kenikmatan yang tiada tanding dia akan terlena dan lupa akan segalanya sehingga tidak ingin kembali pada kondisi maupun keadaan sebelumnya. Bukan hanya itu nabi juga ingat apabila belum selesai menyempurnakan agama islam yang dimana agama ini kelak akan dijaga kitabnya hingga akhir kiamat nanti. Agama yang menjadi penyempurna dan penutup agama sebelumnya, yang hingga sekarang menjadi agama yang benar bagi orang-orang yang memahami tauhid. Sifat-sifat nabi yang nantinya melahirkan gagasan pikiran profetik yang mengarah pada suatu ilmu yang membawa perubahan tanpa merusak sekitar. Pada kenyataannya zaman sekarang banyak ilmu yang dikembangkan oleh banyak ilmuan tapi banyak merusak alam sehingga alam pun terkadang marah kepada manusia. Profetik pun juga lahir dari realita kehidupan manusia pada zaman sekarang yang dimana orang-orang mulai menyepelekan ilmu berpandangan bahwa ilmu hanyalah batu sandungan untuk sukses, dan mulai berorientasi filsafat yang sebagai induk dari para ilmu hanyalah ilmu yang membuat ambigu tidak memiliki manfaat yang jelas. Dengan pikiran manusia yang mulai menyepelekan ilmu dan sudah tidak mengedepankan nilai yang perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari membuat manusia sedikit demi sedikit kehilangan nilai kemanusiannya. Disinilah salah satu faktor lahirnya profetik disamping faktor peristiwa sejarah yang sudah diuraikan sebelumnya. Profetik sendiri juga berasal dari kutipan penggalan surat yang ada dalam Al-Qur’an pada surat Ali-Imran ayat 110. Dari ali imran ada 3 kata yang digaris bawahi sebagai landasan lahirnya Profetik yaitu Ta’muruna bil ma’rufi, tanhauna anil mungkar, dan tu’minna billahi. Yang nantinya menjadi kerangka humanisasi (pemberdayaan), liberasi (pembebasan), transedensi (ketuhanan/pencerdasan). Dari tiga nilai itu Ikatan Mahasiswa Muhamadiyah mengadopsinya menjadi trilogi yaitu religiusitas, intelektualitas, dan humanitas yang selama ini menjadi garis haluan dalam pergerakan yang wajib diamalkan. Yang dimana dimaksudkan untuk mewujudkan cita-cita IMM yang dalam pengaplikasiannya tidak bolehsaling menintervasi antara organisasi satu dengan yang lain dalam lingkungan kampus. Dan trilogy IMM tidak akan trcapai jika kita tidak memperjuangkannya. 

    Dalam pengkaderan IMM pada setiap komisariat bahkan tiap individu pun berbeda tidak bisa kita sama ratakan. Tapi, nilai yang harus  kita sampaikan bisa disama ratakan dengan disesuaikan cara penyampaian sesuai dengan kapasitas tiap individunya. Salah satu nilai yang perlu disampaikan hingga tertanam salah satunya adalah nilai profetik yang diadopsi dari gagasan pikiran Prof. Dr.Kuntowijoyo, M.A. Sebagai kader IMM kita wajib mengamalkan trilogy yang diadopsi dari ali imron ayat 110 yang juga sebagai rujukan nilai profetik. Di kehidupan sehari-hari banyak hal yang diamalkan apalagi diterapkan pada desa binaan. Pengkaderan dapat berupa denan mengajak untuk ikut kegiatan contohnya ikut dalam kegiatan penggalangan dana untuk membantu mengembangkan desa binaan atau menggalang dana untuk membantu korban bencana alam, dari acara sederhana ini nilai profetik bisa muncul dengan sendirinya karena hal-hal sedehana terkadang lebih melekat dari pada hal-hal benar yang kita lakukan tapi hanya berharap imbalan. Bukan hanya penggalangan dana rangkaian acara pengembangan desa binaan bukan hanya menanamkan nilai humanitas saja tapi intelektualitas dan religiusitas. Untuk pengamalan intelektualitas dengan mengajak kader untuk meriset tempat desa binaan  dan mencari hal-hal yang masih kurang baik, untuk dikembangkan dengan cara yang lebih menarik agar tingkat kesejahteraan warga desa binaan jauh lebih baik. Dalam riset ini bukan hanya untuk mencari suatu permasalahan yang ada tapi juga untuk memperhatikan tingkat kesehatan para warga karena lingkungan juga mempengaruhi tingkat kesehatan manusianya sendiri. Untuk menanamkan nilai intelktualitas bukan hanya riset, tapi juga ada sebagai tenaga pegajar Taman Pendidikan Al-Qur’an yang dapat menanamkan nilai relegiusitas. Dengan mengajarkan doa sehari-hari, menceritakan tentang tauladan nabi yang dimana banyak kisah nabi-nabi bahkan sahabatnya yang sangat menggucang karena memiliki motivasi yang dapat meningkatkan semangat kader maupun anak TPA untuk terus mendekatkan diri dengan sang Pencipta. Dari sini kita dapat menanakan nilai profetik yang dapat merubah arah gerak bangsa yang mulai mengesampingkan sebab akibat dari kebijakan yang dibuat, walapun kebijakan itu pastinya sudah dikaji dengan seksama tapi tidak mengimplikasikan nilai profetik dalam penelaahannya. Karna Profetik sendiri merupakan realitas absrak terdapat pada sifat kenabian yang ideal secara spiritual-individual, yang diamalkan pada ‘amar ma’ruf (humanisasi), Nahi Munkar (liberasi), dan tu’minuna billah (transedensi). Sebagai seorang kader IMM perlu juga kita mengoptimakan dalam peneladanan nilai profetik untuk menjadikan ikatan yang jauh lebih mementingkan sebab akibat bukan hanya untuk menjalankan proker terus menerus. Karena hakikatnya IMM sebagai pencetak kader-kader militant yang nantinya akan menerapkan nilai profetik dari ranah terkecil hingga terbesar. Karakter yang perlu ditanamkan bukan hanya nilai profetik itu sendiri, tapi juga implementasi nilai  profetik dalam kancah masyarakat.  

    Banyak hal yang terlewati termasuk nilai profetik yang sekarang telah banyak diamalkan tanpa dirasakan sehingga kebaikannya hanya karena melaksanakan program kerja saja. Padahal pada hakikatnya manusia merupakan manusia social yang tidak dapat berjuang sendiri dalam segala aspek sehingga perlu ada rasa humanitas untuk selalu saling memberdayakan antara satu dengan yang lain apalagi dalam satu ikatan (IMM). Menanamkan nilai profetik agar diamalkan untuk kehidupan sehari-hari bukan lah  yang mustahil, tapi juga bukan perkara mudah. Mengingat mausia memiliki sifat jika merasa mendapat kenikmatan yang tidak pernah kita rasakan sebelumnya membuat kita lupa akan segalanya. Padahal Allah memberikan cobaan itu hanya ingin tahu apakah mereka kembali kepada Allah atau malah akan melupakannya. Dengan begini rilegiusitasnya dipertanyakan dan bagaimana ikatan menanamkan hal itu agar kadernya dapat selalu dekat ya sebisa mungkin dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT.  Menengok kondisi kader sekarang yang banyak menyukai membaca buku padahal kita tahu pada wahyu pertama yang diterima nabi yaitu perintah untuk membaca yang terdapat pada surat Al-Alaq. Ini menunjukkan bahwa membaca adalah jendela llmu yang harus kita lestarikan. Dan rilegiusitas bukan hanya dicapai dengan beribadah saja tapi dengan berdiam diri pun bisa dilakukan karena dalam diam kita terkadang jauh lebih tenang merasa Allah hadir di samping kita. Karena pada hakikatnya diam bukanlah hal yang selamanya salah ataupun benar tapi memiliki porsi tertentu bagi orang yang dapat memanfaatkan diam dengan jauh lebih efektif dalam kehidupannya. Walaupun, banyak orang berpandangan buruk terkait orang yang memiliki kepribadian yang cenderung melakukan apapun dengan diam pastinya mereka memiliki hal istimewa yang terkadang kita pandang adalah hal yang sepele sehingga keistimewaannya tidak lagi terlihat. Degan ini perlu adanya berubahan orientasi pandangan masyarakat, minimal dari mahasiswa selaku agent of change agar hal-hal yang pemahamannya yang masih kurang tepat dapat berubah. Dengan ini diam bukanlah hal yang perlu dihindari karena tidak semua itu buruk, kita juga perlu lebih tahu terkait manfaat diam agar juga dapat bermanfaat bagi kita.

    Jadi pada dasarnya nilai profetik pun bisa dibentuk dengan berawal dari hal kecil, meskipun bentuk besarnya ada. Tapi cenderung lebih sulit karena mungkin mengamalkan nilai profetik tidak semudah teori yang sering kita baca, ataupun dengar. Dengan begini nilai humanitas bisa diterapkan dikehidupan sehari-hari ataupun berikatan dengan saling mengingatkan satu sama lain dengan tetap mengindahkan keramahan, kesopanan, dan tata bahasa agar etika meningatkan tidak menyinggung perasaan oranng lain dan orang lain dapat menerima dengan lapang dada. Sedangkan pengamalan intelektualitas bisa berupa mengajakan teman sendiri maupun berdiskusi dengan teman-teman ikatan sehingga terbentuknya pikiran yang terbuka dan majlis ilmu tanpa kita sadari sendiri, dengan ini ilmu yang teradang tidak kita prediksi pun bisa keluar untuk di diskusikan. Sedang releiusitas dapat berupa kita berdiam diri walaupau berdiam diri pun bukan jalan terbaikya karna Diam bukan berarti tidak memahami, tidak melakukan apa-apa. Tapi diam adalah senjata ampuh untuk merencanakan sesuatu sehingga oran lain tidak tahu apa yang sedang kita rencanakan. Tidak dipungkiri pula, banyak orang yang cenderung suka bekerja diam-diam dari pada harus memperlihatkan apa yang sedang dilakkan karena takut akan hinaan yang akan diterima karena terlalu rajin dan bekerja keras.

    Tapi perlu kita ingat apabila diam tidak sepenuhnya dibenarkan karena diam terkadang menimbulkan berbagai kecemburuan, kecurigaan, dan banyak lagi. Diam juga suatu hal yang sangat kita butuhkan, karena saat diam berbagai hal akan terlintas membuat kita akan  mula memikirkan bagaimana menyelesaikan berbagai masalah yang terlintas dan pastinya juga mengenang hal-hal bahagia yang pernah kita alami. Kebanyakan rang setelah berdiam diri dan merenungkan kehidupan cenderung akan menjadi pribadi yang lebih baik karena saat diamnya mereka seringkali melihat kilas balik kehidupan dengan memasukkan bagaimana dia bisa jauh lebih baik dari sebelumnya agar kesalahan yang lalu tidak terjadi lagi. Berbagai inspirasi yang kadang ingin kita tuangkan dalam karya maupun tugas kuliah sering terlintas saat kita melamun, berdiam diri tanpa melakukan apa-apa sehingga ispirasi itu mengalir begitu saja seperti air mengalir. Maka dari itu diam bukan lah hal negative tapi ada hal positif yang dapat kita petik. Dalam pandangan islam berdiam diri juga tidak dipermasalahkan, karena ada kalanya kita perlu untuk berdiam diri atau seringkali kita sebut I’tikaf yan banyak dilakukan 10 hari terakhir puasa ramadhan.  Dan dijelaskan beberapa hadits menenai I’tikaf. Tapi sebenarnya I’ikaf bisa dilakukan kapan saja arena ini sebagai bentuk betapa banyak dosa dan ketidak sempurnaan kita sebagai manusia biasa yang dimana perlu selalu memperbaiki diri hingga akhir hayat nanti. Memang tidak sebading dengan hanya kita medekatkan diri dengan beribadah atau pengajian bersama ahli ulama tapi berdiam diri membantu menenangkan diri dan memikirkan kesalahan kita sehingga mendapat solusi yang kelak dapat diimplemeasikan kepada orang lain yang mungkin memiliki permasalaan yag kurang lebih seperti apa yang pernah kita alami.  Maka dari itu sebagai manusia hendaknya kita bukan hanya menagandalkan pikiran kita tapi perlu merenungkan agar lebih dekat dengan Allah karna mengingat dosa dosa yang pernah di perbuat selama hidup sehingga rilegiusitas kita bertabah tanpa kita sadari walaupun mungkin akan turun lagi. Tapi setidaknya kita berusaha untuk manaikkannya agar ketika turun tidak sederastis itu. Seperti hal nya sebuah air walaupun dibuang sisa airnya pun masih ada.

 

Refreance :

Astuti, P. (2018). Nilai-nilai profetik dan implikasinya bagi pengembangan kurikulum pendidikan agama islam (studi pemikiran kuntowijoyo) (Doctoral dissertation, UIN Raden Intan Lampung).

Widyaningsih, T. S., Zamroni, Z., & Zuchdi, D. (2014). Internalisasi dan aktualisasi nilai-nilai karakter pada siswa SMP dalam perspektif fenomenologis. Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi, 2(2).

Mukaromah, N. (2019). Nilai-Nilai Religius dalam Film Lima Penjuru Masjid Karya Humar Hadi dan Implementasinya sebagai Bahan Pendidikan Karakter (Doctoral dissertation, IAIN).

Wulansari, P., & Khotimah, N. (2020). Membumikan Ilmu Sosial Profetik: Reaktualisasi Gagasan Profetik Kuntowijoyo dalam Tradisi Keilmuwan di Indonesia. Prosiding Konferensi Integrasi Interkoneksi Islam dan Sains, 2, 431-435.

 


Kamis, 30 Maret 2023

 Analisis Sosial Terhadap Kaum Feminisme: Misinterpretasi “Pelayan dan Perbudakan” Dalam Relasi Suami-Istri Menurut Prespektif Islam.

Oleh: Saminur Fauzan/Universitas Muhammadiyah Surakarta

    Nyaris kita sering mendengar tentang masalah sosial dan boleh jadi kita bisa menyebutkan beberapa hal yang termasuk ke dalam masalah sosial. Namun untuk menentukan hal yang sejatinya disebut masalah sosial perlu metode yang biasa disebut dengan analisis sosial.

    Hematnya, analisis sosial adalah sebuah skema tentang interaksi antar faktor dalam rangka memecahkan masalah sosial. Secara mendetail analisis sosial berusaha untuk mendapatkan gambaran yang lebih lengkap tentang: situasi sosial, hubungan struktural, kultural (budaya) dan historis (sejarah) sehingga memungkinkan untuk menangkap dan memahami realitas sosial yang dihadapi untuk selanjutnya dicarikan solusi permasalahannya. Menurut lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM) analisis sosial menjadi perlu karena hal-hal berikut: 

  • Pertama, sangat berguna untuk pemahaman dan identifikasi masalah secara lebih seksama sampai tahap melihat akar masalah dan ranting masalah.
  • Kedua, dapat digunakan untuk menggali serta menyelami potensi (kekuatankelemahan-peluang-tantangan) yang ada pada komunitas.
  • Ketiga, menguntungkan untuk membangun ukuran dengan lebih baik bagi kelompok yang dirugikan.
  • Keempat, efektif untuk membangun prediksi berupa tindakan-tindakan sebagai upaya mengubah keadaan. 

    Saya melihat perempuan kerap lekat dengan stigma harus terlihat cantik, indah, lembut, berada di rumah mengurus rumah tangga, menjadi istri dan ibu yang baik, pandai masak, taat dan tidak boleh berkata kasar dan sebagainya. Salah satu kekerasan psikis yang dirasakan oleh perempuan adalah pandangan dan perbedaan antara laki-laki dengan perempuan. Umumnya anggapan-anggapan tersebut tidak terlalu penting karena perempuan sudah memiliki porsi masing-masing.

    Perempuan secara etimologi diambil dari penggalan kata empu berarti tuan yakni orang yang mahir, berkuasa, ketua,paling besar dan dihargai sehingga Zaitunnah memaparkan makna kata empu adalah diharga atau seseorang yang memiliki nilai dan dihargai. Paham konsep dan teori feminisme selalu berubah-ubah sesuai konstruk sosial dan kultural pada zamannya. Martin dan Nakayama dalam isu-isu terkait gender diberbagai negara besar di dunia masing-masing memiliki sudut pandang yang berbeda pada paham feminisme jika dilihat secara ekspilisit maupun implisit. Meskipun dewasa ini posisi perempuan dan eksistensi perempuan di masa ini telah berevolusi menjadi sebuah keuntungan bagi mereka khususnya dalam bidang karir.

    Menurut konsep keluarga muslim, tidak terdapat perbedaan antara suami dan istri. Diantara mereka memiliki hak yang seimbang baik istri maupun yang ada pada suami. Relasi antara suami-istri bersifat equal (sejajar). Makna kesejajaran dalam berkeluarga menurut pandangan saya bukan memposisikan suami dan istri dalam satu perlakuan atau mereka diperlakukan sama. Justru saya perpandangan bahwa memperlakukan suami dan istri secara sama dalam semua keadaan khususnya dalam berkeluarga menimbulkan bias gender. Jika mensejajarkan antara suami dengan istri dalam hal rumah tangga di satu keadaan seperti suami berkewajiban mengurus anaknya, sama halnya istri berkewajiban mengurus anaknya. Artinya kewajiban mengurus anak tidak sepenuhnya menjadi kewajiban istri saja, tapi juga kewajiban bersama. Dan dengan itu akan menjalin hubungan kemitrasejajaran diantara keduanya, bukan hubungan struktural layaknya atasan dan bawahan. Hubungan yang terbangun ialah hubungan saling melengkapi sesuai peran dan fungsi atau hubungan fungsional.

    Jika mensejajarkan antara suami dengan istri dalam hal rumah tangga di satu keadaan seperti suami berkewajiban mengurus anaknya, sama halnya istri berkewajiban mengurus anaknya. Artinya kewajiban mengurus anak tidak sepenuhnya menjadi kewajiban istri saja, tapi juga kewajiban bersama. Dan dengan itu akan menjalin hubungan kemitrasejajaran diantara keduanya, bukan hubungan struktural layaknya atasan dan bawahan. Hubungan yang terbangun ialah hubungan saling melengkapi sesuai peran dan fungsi atau hubungan fungsional.

Allah ta’ala berfirman dalam surat Ar-Rum ayat 21

yang artinya:

“Dan di antara tanda-tanda kebesaran Allah adalah Dia menciptakan untukmu pasangan dari dirimu sendiri, supaya kamu merasa tenteram (sakinah) kepadanya, dan Dia menjadikan di antara kamu cinta kasih (mawaddah) dan kasih sayang (rahmah). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” 

    Ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian dari ayat tersebut, yang sekaligus menggambarkan relasi suami-istri dalam Islam, yaitu: 

    Penyebutan ajwazan yang artinya (berpasang-pasangan) dalam ayat tersebut mempunyai arti di antara keduanya harus terjalin hubungan kemitrasejajaran, bukan hubungan struktural (atasan dan bawahan) dan hubungan yang semestinya terbangun adalah hubungan fungsional (saling melengkapi). Dalam ayat tersebut juga menyatakan bahwa hubungan antara suami-istri adalah untuk mewujudkan “sakinah” yaitu ketenangan, ketentraman dan kebahagiaan.

    Ayat tersebut juga disebutkan mawaddah (cinta kasih) dan rahmah (kasih sayang). Kedua kata ini merupakan gambara ikatan yang sangat erat antara kedua bagian dari pasangan dan bahkan sulit dibedakan maknanya. Namun tetap dapat dipisahkan, yaitu mawaddah lebih berkonotasi kepada biologis, sedangkan rahmah lebih berkonotasi kepada psikologis. Dalam agama Islam tidak memandang secara skematis faktor-faktor perbedaan laki-laki (suami) dengan perempuan (istri), tetapi lebih memandang keduanya secara utuh. 

    Boleh jadi dalam satu peran dapat dilakukan oleh keduanya, seperti perkerjaan kantoran, tetapi dalam beberapa peran tertentu hanya dapat dijalankan oleh satu jenis, seperti; hamil, melahirkan, menyusui anak, yang peran ini hanya dapat diperankan oleh wanita. Di sisi lain ada yang lebih tepat diperankan oleh kaum pria seperti pekerjaan yang memerlukan tenaga dan otot lebih besar.

    Selanjutnya diakhir saya berpendapat bahwa sifat yang dimiliki oleh manusia yang tidak dimiliki oleh makhluk lain sifat layan, melayani. Anak melayani kedua orangtuanya adalah berbakti bukan perbudakan, Polisi melayani masyarakat adalah pengabdian bukan perbudakan, Para alim ulama melayani umat adalah responsibility bukan perbudakan. Seorang suami melayani istrinya dengan mendidik, menafkahi dan memberikan kasih sayang bukan perbudakan, begitu juga peran istri di rumah melayani suaminya, ini bukan perbudakan ini responsibility peran masing-masing. 

    Bentuk melayani ini jangan dimaknai secara spesifik yang digunakan dalam dunia relasi pekerjaan, antara majikan dengan asistennya. Bahkan kata melayani bisa bermakna pertarungan. Makna melayani jika dipahami secara sempit akan menjadi bentuk perbudakan, pemaknaan ini karena kurangnya ilmu dan terjadi gagal paham. Hal melayani di dapur tidak wajib dalam agama Islam, hanya saja tanggungjawab sebagai orang yg diamanahkan di rumah, dia menyiapkan makanan untuk anak dan suaminya. Kalau suaminya penghasilannya tinggi dia bisa sediakan ART atau masakan bisa beli. 

    Pelayanan di sumur juga tidak wajib harus istrinya yang melakukan, tapi kalau suaminya punya tugas bekerja masa istrinya gak mau berbagi tugas di rumah. Kalau suaminya penghasilannya tinggi tidak dosa menggunakan ART atau menggunakan jasa laundry. Dalam Islam pelayanan yang wajib dilakukan oleh istri adalah melayani dalam urusan ranjang, ini tidak bisa digantikan oleh siapapun, nggak tahu ya kalau kalangan feminis mau suaminya dilayani para pelakor, Sekian dan terimakasih.

 

 

 

 
 
 
 
 
 

 

 

 

Jumat, 17 Februari 2023

EDUKASI DI MASA PANDEMI PERLU INOVASI

 Edukasi di Masa Pandemi perlu Inovasi

Oleh: Ahmada Norma Syinta

Tanpa kita sadari hampir setahun Indonesia dilanda wabah virus corona sejak ditemukannya kasus pertama pada bulan Maret dari seorang wanita selepas berdansa dengan warga negara asing. Hingga saat ini masih terjadi penambahan persebaran virus corona di seluruh dunia khususnya negara kita sendiri. Tidak ada yang mengetahui kapan wabah ini akan berakhir, walaupun sudah ditemuka formula vaksin tapimas belum diketahui apaka efekif utuk menanani maupun menaggulangi karena vaksin tersebut masih pada tahap pengujian. Namun, dengan berjalannya waktu virus corona sudah tidak menjadi ketakutan bagi masyarakat, mereka melakukan aktivitas seperti sebelum adanya virus corona dan melupakan protokol kesehatan. Dari sudut pandang warga desa pun virus corona hanya di takuti di awal pemberitaan karena belum tahunya penanganan secara tepa serta banyak korban jiwa yang telah meninggal, akan tetapi dengan berjalannya waktu virus corona seakan hilang tanpa jejak dikalangan warga.

Wabah virus corona atau lebih sering Covid-19 menimbulkan banyak dampak. Dampak pandemi virus corona tidak hanya pada sektor ekonomi, tetapi berdampak pula pada pendidikan, budaya, kesehatan, dan lain sebagainya. Dari segi pendidikan banyak siswa yang tidak mendapatkan pengajaran secara optimal karena terbatasnya media ataupun sarana. Kemudian pemerintah memberikan inovasi pendidikan ditengah pandemi  kepada para pengajar agar ilmu tetap bisa tersampaikan kepada siswa dengan menggunakan sistem online. Walaupun masih banyak kekurangan, karna tidak semua anak mempunyai sarana mengakses pembelajaran online. Akantetapi tetap saja pembelajaran online adalah inovasi edukasi terbaik di masa pandemi tersebut karena pada masa pendemi di haruskan menjalankan protokol kesehatan yang menganjuran untuk menjauhi kerumunan.  

Pemerintah memberikan bantuan kuota bagi para pelajar sesuai tingkatan pendidikan mereka yang bertujuan untuk membantu melancarkan proses pendidikan yang ada di Indonesia. Banyak sekali inovasi edukasi yang sudah tersedia contohnya seperti google meet yang dapat diakses untuk melakukan pertemuan virtual sehingga kita dapat melihat dan berkomunikasi dengan guru ataupun teman kita. Mungkin ini adalah suatu yang baru untuk kita, tapi sangat bermanfaat dan tidak membuat jenuh karna kita di anjurkan untuk tetap di rumah saja.  

Pada masa ini sudah banyak inovasi bagi dunia pendidikan, tetapi belum bisa membuat semangat para peajar membara untuk menuntut ilmu. Mengapa terjadi seperti itu? Karena sebagian besar pengajar menyampaikan pembelajaran secara monoton sehingga membuat para pelajar bosan. Padahal pada dasarnya banyak kreasi yang bisa dilakukan dalam penyampaian pembelajaran seperti membuat sebuah video yang menarik dengan memanfaatkan aplikasi yang sudah tersedia, dengan begitu para pelajar akan lebih penasaran dengan apa isi dari materi yang akan di sampaikan oleh pengajar tersebut. Menurut sudut pandang saya sebagai mahasiswa baru pembelajaan virtual atau daring sangat menyenangkan dan menarik karena tugas yang di berikan sangat beragam model, namun penyampaian cenderung membosankan.

Dengan ini inovasi terbaik edukasi terdapat dari pengajar yang nantinya akan mengalir kepada pelajar, sehingga pelajar akan mendapatkan inovasi sendiri dengan adanya aliran dari pengajar tersebut. Mengapa sebuah pengajaran harus inovatif? karena pembelajaran yang inovatif dapat menggugah semangat baru bagi pelajar. Contoh seorang dosen yang membuat video dengan performa yang tidak monoton menuntun para mahasiswa mencoba memahami materi tersebut dengan pemahaman yang lebih bebas sehingga pemikiran mereka akan bekerja lebih ekstra untuk menciptakan pemahaman yang lebih mudah untuk di pahami.  

Berbagai inovasi seperti memberi tugas video, membuat essay, sampai menyampaikan presentasi materi yang sudah di berikan pengajar sebagai inovasi pendidikan untuk menghidupkan ruang belajar yang kapan saja bisa dilakukan dengan kegiatan lain. Mungkin inovasi yang di berikan pengajar sudah sangat menarik untuk penajaran di masa pandemi, amun tetap pengajaran tatap muka adalah yang sangat di rindukan.