Minggu, 03 September 2023

Membangun Sikap dan Semangat Inklusifisme Menuju IMM Kolaboratif dalam Menjawab Tantangan Zaman

  Membangun Sikap dan Semangat Inklusifisme Menuju IMM Kolaboratif dalam Menjawab Tantangan Zaman

Disusun Oleh    : Rabiatul Adawiya

 

PENDAHULUAN  

    Di era sekarang ini sangat penting bagi kita untuk menggelorakan semangat inklusifisme dan mempunyai sifat inklusif, karena sadar atau tidak sadar mulai munculnya gejala ekskusivisme ditengah tengah masyarakat, tidak terkecuali di kalangan anak muda. Contoh sederhananya adalah munculnya circle - circle pertemanan yang mereka hanya mau berteman dengan orang yang dianggap kaya, keren, atau orang menduduki status sosial tinggi, hal ini lah yang nantinya akan menyebabkan kecemburuan sosial. Gejala eksklusivisme juga mempunyai dampak negatif yang salah satunya adalah dapat memecah belah persatuan. Maka dari itu pentingnya memiliki sifat inklusif adalah untuk mencegah terjadinya suatu perpecahan, dan mencegah dampak negatif lain dari adanya eksklusivitas. Sifat inklusif juga akan mempermudah kita dalam menjalin hubungan dan kerjasama yang baik bersama kelompok lain dengan segala perbedaan yang ada. Dengan kata lain kita dapat menghancurkan tembok perbedaan antar kelompok untuk berkolaborasi mewujudkan tujuan besar yang dicita - citakan bersama.  

    Lalu bagaimana kita dapat menerapkan sikap inklusif ini dalam ber - IMM? Belum lagi sejatinya IMM melahirkan untuk menjawab tantangan zaman dan sebagai wadah peningkatan intelektual mahasiswa. Dengan fenomena yang ada saat ini Indonesia berada dipusaran revolusi 4.0 yang akan menjelang tantangan dan zaman baru society 5.0. pengguliran zaman ini akan menjadi persoalan fundamental bagi kader - kader IMM agar bersiap melakukan gerakan perubahan, demi menyambut era societary 5.0. Untuk itu para kader IMM perlu mengobarkan semangat dan dedikasi yang tinggi dalam memberikan ide dan gagasan untuk merealisasikan Tri kompetensi dasar IMM agar tetap eksis menuju era society 5.0. 


PEMBAHASAN

    Sebelum membahas lebih lanjut perlu kita ketahui bersama apakah itu sikap inklusif. Sikap inklusif adalah sikap keterbukaan seseorang atau kelompok pada toleransi, menerima segala perbedaan serta dapat berinteraksi dengan keragaman budaya yang ada. Dengan kata lain, sikap ini memiliki arti menginginkan kebersamaan, meskipun mengakui adanya perbedaan. Sikap ini lah yang nantinya akan menumbuhkan rasa kebersamaan, gotong royong dan bahu membahu antar kelompok masyarakat. 

    Selain pentig bagi kita memiliki sikap inklusif ini, kita juga perlu menularkan sikap ini kepada orang lain agar didalam diri mereka juga tertahan sikap inklusif. Lantas bagaimana caranya? Pertama, terapkan sikap inklusif ke kehidupan sehari hari dan jadilah panutan yang baik. Ketika kita berbuat baik tidak dipungkiri akan ada pula orang yang terpengaruh terhadap perbuatan baik kita, lalu dia juga akan mengikuti apa yang kita lakukan. Walaupun tidak semua orang dapat terpengaruh oleh perbuatan kita itu, namun setidaknya kita telah berhasil menarik segelintir orang untuk berbuat demikian. Kemudian jika segelintir orang tersebut menerapkan dikehidupan sehari harinya, kemungkinan orang lain juga akan bisa tertular oleh sikapnya itu. Yang kedua, sesekali ajak lah diskusi mengenai perbedaan dan persamaan yang terlihat dilingkungan sekitar. Ketika diskusi itu berlangsung buat lah orang tersebut tidak membenci perbedaan yang ada melainkan fokus lah pada apa yang bisa kita lakukan bersama dari adanya perbedaan dan keragaman itu untuk mewujudkan sesuatu yang luar biasa. Kemudian yang terakhir, jangan terlalu fanatik dengan kelompok. Di era sebelum kemerdekaan Indonesia sulit sekali bagi kita untuk mencapai kata "Merdeka" karen tidak adanya persatuan, masing - masing individu berjuang untuk daerah mereka sendiri. Sma halnya dengan saat ini, jika terlalu fanatik dengan satu kelompok tertentu maka kita hanya akan fokus dan mementingkan kelompok itu. Padahal ada hal yang lebih besar kita dapatkan jika itu bersatu dan berkolaborasi. 

    Nah dari adanya sifat inklusif ini dapat melahirkan kata kolaborasi, karena orang yang memiliki sifat inklusif sejatinya suka bergotong roying dan bahu membahu. Sifat inklusif ini perlu diterapkan dalam ber-IMM, apalagi sejatinya IMM dilahirkan untuk menjawab tatangan zaman dimana diperlukan ketrampilan berpikir kritis, kreatif, komunikatif, dan kolaboratif. Fenomena saat ini Indonesia berada di pusaran revolusi industri 4.0 dimana era penerapan terknologi modern yang bekerja disetiap aktivitas ekonomi dari produksi hingga konsumsi. Ketua Umum DPP IMM, Najih Prastiyo mengatakan, kekuatan pertama yang harusdimiliki oleh kader IMM adalah kemampuan unggul dalam segi penugasan teknologi. Menurut dia, harus diakui saat ini kader IMM masih lemah dalam penuguasaan teknologi. Buktinya, Go-jek atau Alibaba misalnya, bukanlah hasil karya anak - anak IMM. Lalu bagaimana kader IMM bisa menguasai teknologi masa kini? Selain memperdalam intelektual dibidang tersebut, IMM juga perlu berkolaborasi dan mempunyai partner yang mempuni dibidang IT intuk dapat memperkuat dan mengektualitasikan niatnya dalam menguasai teknologi.

    Kemudian kekutan kedua yang harus dimiliki kader IMM dalah kemampuan di bidang entrepreneurship. Dalam dunia bisnis, berkompetensi adalah hal yang wajar. Bersaing dan beradu kecepatan untuk membuktikan sipa yang paling terdepan adalah suatu keharusan . Namun, tidak berarti tanpa kompetensi, seorang [elaku usaha tidak bisa menggapai kesuksesan. Bagaiamana jika kita putar pola pikir kita. Mengubah kompetensi menjadi kolaborasi, mengubah persaingan menjadi kerja sama untuk mencapai tujuan. Saat ini, sudah banyak usaha berhasil meraih kesuksesan lewat kolaborasi. Contoh saja Oreo x Supreme yang beberapa waktu lalu ramai diperbicangkan masyarakat. Selian itu ada juga kolaborasi antaa samsung dan BTS yang kabrnya berhasil menjual habis produknya dalam waktu kuranf dari 1 jam setelah pre-order resmi dibuka di Korea Selatan. Contoh - contoh diatas bisa kita jadikan bukti bahwa pengaruh kolaborasi sangat kuat jika diterapkan didunia bisnis.

     Belum lama larut dalam euforia industri 4.0, kita sudah mendengar istilah Society 5.0 yang artinya integrasi melalui duni maya ke dunia nyata berbasis teknologi. Dimana dalam mempersiapkan era society 5.0 ini intelektualitas sangat dikedepankan, kita dituntut agar memiliki kemampuan memecahkan masalah kompleks, berpikir maju, kritis, kreatif dan berinovasi baru. Untuk merespon hal ini dilakukan kolaborasi antara dunia industri, akademis dan masyarakt untuk mengidentifikasi permintaan dan ketersediaan skill bagi era digital di masa depan. maka dari itu hal utama yang perlu dipersiapkan para kader IMM dalam menjawab tantangan zaman adalah meningkatkan kualitas dirinya sendiri, baik dalam hal sikap, intelektual, dan ketaatan Allah. 


PENUTUP

    Inklusifisme merupakan fitnah yang telah dititipkan oleh tuhan kepada setiap manusia agar dapat membangun, kerukunan, kebersamaaan, dan keadilan. Untuk itu semestinya dalam diri kader IMM pun sudah tertanam sikap inklusif, kta hanya perlu menerapkan sikap tersebut dalam ber-IMM juga dalam bermasyarakat. Dan kita semua tahu tidak mudah bagi kader IMM untuk menghadapi tantangan zaman, selain diperlukan sikap inklusif dan beberapa skill yang nantinya akan diterapkan kita juga harus tetap berpegang pada Tri kompetensi dasar. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sejauh ini semakin tidak terkontrol, terbukti dengan semakin maraknya pekerjaan manusia yang disabotase oleh mesin maupun teknologi canggih lainnya. Maka tidak menutup kemungkinan suatu saat manusia akan kehilangan nilai sosial dan ruh gotong royong yang seharusnya menjadi ikon peradaban bangsa Indonesia. Dan hal itu bisa saja merongsong sistem kolektifitas IMM, dan bisa mengakibatkan lumpuhnya pergerakan hingga mematikan nilai fastabiqul khoirot. Maka sebenarnya tantangan internal IMM di era society 5.0 adalah Tri kompetensi dasar itu sendiri, mengingat rumusan - rumusan yang ada didalam Tri kompetensi dasar sudah menjadi kebutuhan utama peradaban umat manusia dari masa ke masa, maka Tri kompetensi dasar IMM hari ini akan menjadi tantangan sekaligus peluang untuk menghadapi era society 5.0 ini.


DAFTAR PUSTAKA

Adam, A. W. (2004, Febuari). Menuju Indonesia Maju yang Inklusif.

Rompies, J. K. (2021, November). 5 Cara Menanamkan Sikap Inklusif pada Anak Sejak Usia Muda.

Official, D. (2021, April). Peran IMM Menjawab Tantangan Zaman. 

Sabtu, 02 September 2023

Implikasi Kaum Merah Dalam Triloginya

 IMPLIKASI  KAUM MERAH DALAM TRILOGINYA

Oleh    : Fathiya Nur'aini Azizah 

 

 

A.    Pendahuluan

        IMM atau Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah merupakan organisasi otonom di bawah Muhammadiyah.Organisasi ini lahir pada tanggal 14 maret 1964/29 Syawal 1384 di Yogyakarta. Sesungguhnya ada dua faktor integral yang melandasi kelahiran Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern yaitu faktor yang terdapat di dalam diri Muhammadiyah itu sendiri, sedangkan faktor ekstern yaitu faktor yang berawal dari luar muahammadiyah, khususnya umat Islam di Indonesia dan pada umumnya apa yang terjadi di Indonesia. Faktor intern, lebih dominan dalam bentuk motivasi idealisme, yaitu motif untuk untuk mengembangkan ideologi Muhammadiyah, yaitu faham cita - cita Muhammadiyah. Dengan restu PP Muhammadiyah waktu itu diketahui oleh H.A. Badawi, dengan penuh bijaksana dan kearifan mendirikan organisasi yang khusus untuk Mahasiswa Muhammadiyah yang diketahui oleh Drs. Moh. Djazman sebagai koordinator dengan anggota M. Husni Thamrin, A. Rosyad Saleh, Soedibjo Markoes, Moh. Arief dll. Jadi pendiri Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah dan pencetus nama IMM adalah Drs. Moh. Djazman Al - kindi yang juga merupakan koordinator dan sekaligus ketua pertama muktamar IMM ynag pertama pada 1 - 5 Mei 1965 di Kota Barat, Solo. 

 B.    Isi 

            Kelahiran IMM seringkali dikaitkan dengan rencana dibubarkan HMI oleh pemerintahan Soekarno yang mendapat sokongan dari PKI pada saat itu. Namun, Farid Fathoni, penulis buku "Kelahiran yang Dipersonalkan" menegaskan bahwa kelahiran IMM merupakan sebuah keharusan di Muhammadiyah yang merupakan kehendak sejarah. Kehadirannya sangat diharapkan menjadi sebuah regenerasi umat yang memiliki akhlak mulia dan menjadi sebuah wadah bagi mahasiswa untuk mewujudkan Islam yang sebenar - benarnya. Dari pernyataan tersebut diatas dapat kita simpulkan sebagaimana salah satu tulisan Ahmad Janan Febrianto, Instruktur DPD IMM DIY pada buku 'Tak Sekedar Merah : Memoar dan Testimoni Kader IMM' menuliskan bahwa IMM adalah salah satu organisasi otonom Muhammadiyah yang merupakan sebuah wadah berkumpul berjuang untuk menggerakkan dan membina potensi mahasiswa Islam guna meningkatkan peran dan tanggung jawabnya sebagai kader persyarikatan (Muhammmadiyah). IMM disebut juga gerakan mahasiswa Islam yang bergerak dalam bidang keagamaan, kemahasiswaan, dan kemasyarakatan. Adanya klasisfikasi ranah gerakan mahasiswa menunjukkan bahwasannya IMM mempunyai bergaining posisi yang jelas, disamping sebagai gerakan mahasiswa juga sebagai sebuah organisasi otonom Muhammadiyah yang secara ideologi sama dengan Muhammadiyah yaitu berakidah Islam bersumber Al - Quran dan As - Sunnah.

            Kelahiran IMM dianggap babak baru perjuangan AMM (Angkatan Muda Muhammadiyah), karena keinginan tersebut selalu tertunda yang barangkali tidak bisa dihindari sebagai kehidupan berbangsa dan bernegara, baik dalam menghadapi kemerdekaan maupun belum tersediannya infrastruktur. Organisasi termasuk belum banyaknya Perguruan Tinggi Muhammadiyah. Adanya PTM sebagai ladang Muhammadiyah dalam bidang pendidikan yang tentunya membutuhkan kader yang mampu memberikan angin segar Muhammadiyah terhadap masyarakat kampus sebagai kaum intelektual: Keberadaan mahasiswa yang berada pada kelas menengah dan tercerahkan secara pemikiran, membutuhkan pola pendekatan yang lebih berbeda dari masyarakat awam pada umunya. Maka dari sinilah pentingnya kelahiran IMM, sebagai martir gerakan Muhammadiyah di kalangan kampus. Terlepas dari beberapa kalangan yang mengaitkan kelahiran IMM sebagai 'wadah penampung HMI' yang hendak dibubarkan, sebagaimana yang telah terjadi pada Partai Masyumi, jika ditinjau lebih dalam hal ini tak ada kaitannya sama sekali. Sebab Muhammadiyah memang membutuhkan "organisasi kader" yang mampu memberikan nafas dakwah Muhammadiyah di kalangan mahasiswa. Ditambah lagi dengan semakin menjamurnya keberadaan PTM saat ini, sehingga kelahiran dan keberadaan IMM bukan hanya sebagai kehendak sejarah melainkan pula keniscayaan dalam tubuh persyaratan Muhammadiyah.

         Adanya keinginan Muhammadiyah membentuk perguruan tinggi pada Muktamar 1936 dan Muktamar Pemuda Muhammadiyah 1956 juga diiringi dengan keinginan menghimpun mahasiswa Muhammadiyah dalam satu wadah organisasi, tentu saja hal ini, hanya bisa terwujud dengan membentuk organisasi otonom Muhammadiyah. Sebagai tidak lanjut yang lebih progresif PP. Muhammadiyah membentuk Departemen Kemahasiswaan yang kemudian menjadi ihwal dari terbentuknya IMM. Jadi, membaca kelahiran IMM, tidak saja pada saat dideklarasikan kelahiran, apalagi gagasan kelahiran IMM tersebut sudah terlahir jauh sebelum desas - desus dibubarkan HMI. 

        Kelahiran IMM sangat erat kaitannya dengan enam penegasan IMM. Enam penegasan menjadi identitas yang selalu melekat erat pada tubuh organisasi dan kader IMM. Kelekatan tersebut dimulai sejak dideklarasikan pada saat Muktamar IMM di Kota Barat Solo, yang kemudian dikenal sebagai 'Deklarasikan Kota Barat'. Isi dari enam penegasan tersebut:

1. IMM adalah gerakan Mahasiswa Islam

2. Kepribadian Muhammadiyah adalah Landasan perjuangan IMM

3. Fungsi IMM adalah sebagai eksponen mahasiswa dalam Muhammadiyah (sebagai stabilisator dan dinamisator).

4.  Ilmu adalah amaliah dan amal adalah Ilmiah IMM

5. IMM adalah organisasi yang syah-mengindahkan segala hukum, undang - undang, peraturan dan falsafah negara yang berlaku.

6. Amal IMM dilakukan dan dibaktikan untuk kepentingan agama, nusa dan bangsa 

    Keberadaan enam penegasan ini harus senantiasa dijadikan pedoman dalam gerakan IMM dalam segala sektor agar cita - cita mengusahakan terbentuknya akademisi Islam yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah dapat terwujud secara kolektif dalam tubuh organisasi dan kader IMM. Sebab yang menjadi pembeda IMM dengan organisasi lainnya adalah karena IMM merupakan sebuah gerakan mahasiswa Islam yang prinsip, gerakan dan kepribadiannya berlandaskan gerakan persyarikatan Muhammadiyah. 

    Pentingnya menyadari hakikat enam penegasan menjadi sangat penting. Karena ia sangat berkaitan dengan kepribadian IMM itu sendiri. Enam penegasan ini yang juga melahirkan trilogi IMM yakni, religiustas (keagamaan), intelektualitas (kemahasiswaan) dan humanitas (kemasyarakatan) yang harus dipakai tidak secara aspek nilai, melainkan juga dengan gerakannya. Enam penegasan harus menjadi basis perjuanagan IMM. Tidak secara secara konstitusional dalam tubuh organisasi, melainkan juga sebagai secara kolektif dalam diri kader. Sehingga segala bentuk gerakan IMM bisa dipahami secara menyeluruh dan mampu memberi efek perubahan yang positif bik dalam organisasi IMM, Muhammadiyah maupun umat. Adanya penafsiran dan koneksitas ilmu pengetahuan dalam gerakan IMM juga tidak kalah pentingnya agar budaya ilmu amaliyah dan amal ilmiah senantiasa terpelihara dan menjadi budaya serta gerakan kolektif dalam tubu IMM. 

        Berbicara mengenai trilogi, akan ada kesinambungan dengan Tri Kompetensi Dasar. Secara tidak langsung, Trilogi IMM merupakan sifat yang tersemat arau yang harus ada pada diri kader. Sedangkan Tri Kompetensi Dasar merupakan bentuk pengejawentahan dari Trilogi. Karena ada tiga kompetensi dasar yang harus diinternalisasikan ke dalam diri kader - kader IMM melalui trilogi, religiusitas menjadi keagamaan, intelektualitas menjadi kemahasiswaan dan humanitas menjadi kemanusiaan. Dan hal ini sudah barang tentu bukan hanya tulisan, sebuah pajangan, maupun pengikraran secara lisan, namun dibutuhkan aksi nyata dalam perbuatan.

  1. Keagamaan sebagai Trilogi dari Religiusitas
  2. Kemahasiswaan sebagai Trilogi dari Intelektualitas
  3.  Kemasyrakatan sebagai Trilogi dari Humanitas

C.    Penutup

        Akhir kata, seideal apaun konsep yang kita create untuk progresifitas IMM, tidak akan berarti apaun tanpa komitmen yang kuat hatiku mewujudkannya. Mudah mengatakan, tapi sulit melakukan bukan? Semangat menebar kebaikan! Kalau bukan kamu siapa lagi?! Kalau bukan dimulai dari diri sendiri, darimana lagi?!

 

Daftar Pustaka  

Ginting, N., Pradesyah. R., Amini, A., & Panggabean, H. S. (2021). Memperkuat Nalar Teologi Islam                     Moderat Dalam Menyikapi Pandemi Covid - 19 Di Pimpinan Ranting Pemuda Muhammadiyah                 Bandar Pulau Pekan. Martabe: Jurnal Pengabdian Kepada Mayrakat, 4(1), 30 - 40. 

Makrus, Cak. (Eds). (2013). Tak Sekadar Merah, Sebuah Memoar dan Testimoni Kader IMM. Yogyakarta             : Rangkang Education.

Sedyo, Halim. (Eds). (2014). Genealogi Kaum Merah : Pemikiran dan Gerakan Yogyakarta : Rangkang                 Education.  

Kamis, 31 Agustus 2023

Menggaungkan Nilai Pendidikan Profetik Di Kalangan Mahasiswa

 MENGGAUNGKAN NILAI-NILAI PENDIDIKAN PROFETIK DI KALANGAN MAHASISWA

 Oleh    : AFIFAH ZAKIYATUL AULIA

C:\Users\User\Downloads\Logo IMM Tanfidz Malang-1.png 

    Berbicara soal implementasi, berarti tidak jauh dari kata pengalaman. Teori apa yang telah kita dapatkan kemudian

Kita aplikasikan dalam kehidupan sehari - hari. Implementasi tidak bisa jauh dari kata pendidikan. Karena dengan 

pendidikan kita mengetahui bagaimana pengalaman suatu ilmu dengan baik. Pendidikan saat ini menempati posisi yang 

begitu penting untuk kehidupan manusia. 

    Pendidikan menenmpati peranan yang penting dalam membentuk suatu karakter. Pendidikan di negara kita mengalami

kondisi yang sulit. Globalisasi yang mulai diterima tanpa adanya penyaringan dan mempengaruhi banyak aspek pada 

masyarakat terutama mahasiswa. Kemajuan ilmu teknologi dan pengetahuan yang terus diikuti oleh arus globalisasi yang 

sangat berpengaruh terhadap pendidikan itu sendiri. Sehingga berdampak pada karakter yang dimiliki oleh bangsa ini 

terutama kaum mahasiswa. Melihat permasalahan diatas, maka sangat perlu diaplikasikan melalui pendidikan non formal,

informal maupun formal.

   Demi memunculkan pendidikan yang tepat bagi bangsa Indonesia, maka perlunya memasukkan nilai - nilai pendidikan

profetik di dalamnya. Ketika misi kenabian diangkat sebagai pondasi pengembangan. Pendidikan Nabi tersebut mempunyai 

tujuan tersendiri yaitu membangun sebuah karakter, mulai dari penanaman tauhid sejak dini, kemudian pembentukan karakter 

positif sebagai langkah awal membangun jati diri yang kuat dalam hal keyakinan (akidah) dan mental (Muflichul Ilmi, 2020).

    Mengenai hal itu, seorang intelektual bernama Kuntowijoyo menyampaikan bahwa ilmu sosial profetik itu penting dan 

diperlukan untuk kemajuan pendidikan karena ilmu profetik dapat mengganti sesuai landasan cita - cita etik dan profetik 

(Muflichul Ilmi, 2020).

    Banyak dari mahasiswa yang tidak mengetahui hasil pemikiran dari Kuntowijoyo ini, yaitu ilmu sosial profetik. Nah, ilmu

sosial profetik ini terdiri dari tiga kata, yaitu ilmu, sosial, dan profetik. Ilmu merupakan campuran dari banyak pengetahuan yang 

diatur secara rasional (logis) dan bersistem dengan menghitungkangejala rasional kaulisatik. Sosial adalah ilmu yang berkaitan 

berkaitan tentang aktivitas manusia dalam kehidupan bersama. Dan profetik itu sendiri diambil dari bahasa inggris yaitu prophet  

 yang artinya nabi. Profetik ini mengandung makna kenabian atau sifat yaitu melekat dalam diri nabi (Maskur, 2012). Maka dapat 

kita simpulkan bahwa ilmu sosial profetik adalah ilmu yang tidak hanya menjelaskan dan mengubah fenomena sosial tapi memberi 

petunjuk akan dibawa kemana perubahan itu dilakukan berdasarkan cita - cita masyarakat ideal yang diinginkan.

    Pendidikan profetik adalah  pemindahan pengetahuan dan nilai kenabian yang memiliki tujuan untuk memebentuk moral,

membentuk akhlak, mendekatkan diri pada Allah serta alam dan memahami untuk membangun khoira ummah sehingga 

tercapainya pribadi yang intelektual, emosional, akhlak dan moral yang berkembang utuh.

    Kuntowijoyo merumuskan bahwasanya pendidikan profetik termuat oleh tiga pilar (nilai dasar) yaitu humanisasi, liberasi, dan 

transendensi. Humanisasi ini biasanya disebut amar ma'ruf yang memuat arti kemanusian manusia. Leberasi ini diambil nahi 

munkar yaitu kebebasan. Sedang transendensi adalah ukuran dari keimanan manusia. Ketiga nilai ini memiliki implementasi 

mendalam terendiri untuk membanut menjadikan kehidupan manusia yang lebih humanistik (Muflichul Ilmi, 2020).

     Tiga nilai ini termaktub dalam Al - Qur'an surah Ali Imran ayat 110:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ

بِاللَّهِ ۗ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ ۚ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

 

Artinya: "Kamu (umat Islam) adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang

makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi 

mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang - orang fasik." (Ali Imran: 110).

    Kalau kita telisik lebih dalam ayat ini, maka kita akan mendapatkan empat hal tersirat, yaitu bagaimana menjadi umat terbaik,

apa peran umat dalam sejarah, bagaimana pentingnya kepekaan, dan apa pentingnya etika profetik. Pertama, sering kita sebut 

khoira ummah. Kedua, aktivisme sejarah atau sering kita sebut ukhrijat linnas yaitu peran umat dalam sejarah karena islam adalah 

agama amal. Ketiga, pentingnya kepekaan serta kesadaran. 

     Untuk menjelaskan lebih detail mengenai tiga poin pendidikan profetik maka berikut penjelasannya:

1. Humanisasi

    Diambil dari bahasa Inggris yaitu human yang artinya manusia, humane berarti peramah, dan humanism berarti perikemanusiaan.

Nilai humanisasi adalah salah satu pondasi paradigma Ilmu sosial profetik (ISP) yang berlandaskan dari ajaran Islam yang berupa 

amar ma'ruf (menegakkan kebenaran) (Athoillah Islamy, 2021). Humanisasi sangat dibutuhkan karena masyarakat sedang berada 

dalam tiga fase yang akut yaitu dehumanisasi (obyektivasi teknologis, ekonomis, budaya, dan negara), loneliness (Privatisasi, 

individuasi), dan agresivitas (agresivitas kolektif dan kriminalitas) (Masduki, 2017).

    Parameter humanisasi adalah memanusiakan manusia, dapat menjaga ukhuwah walaupun berbeda keyakinan, tadisi, dan

lain - lain, menilai seseorang secara menyeluruh meliputi aspek fisik dan psikisnya, sehingga adanya rasa saling hormat, kekerasan

dalam bentuk apapun harus dihapuskan, serta menghapuskan kebencian kepada sesama. 

 2. Liberasi

    Liberasi ini dalam bahasa latin "liberare" yang artinya membebaskan. Kuntowijoyo menyebutkan liberasi adalah pembebasan 

terhadap semua yang berkonotasi dengan signifikasi sosial seperti mencegah menggunakan obat terlarang, memberantas judi, dan

memperjuangkan nasib buruh dan melawan penjajah.

    Nahi munkar berarti pembebasan manusia atas penganiayaa, pembebasan atas kedzaliman, dan pembebasan dari segala bentuk 

aspek yang merendahkan manusia. parameter liberasi adalah memihak pada kepentingan umum, orang kecil, dan kelompok

mustad'afiin, menegakkkan keadilan, menghilangkan kebodohan dan keterbelakangan sosial - ekonomi, dan menghapus berbagai 

bentuk penindasan. 

3. Transendensi 

    Transendensi terdapat pada bahasa latin yaitu "transendence" artinya melampau ke atas, sedang dalam bahasa inggris 

"to transendence" yaitu sangat atau melebihi. Transendensi ini bisa disebut hablumminAllah yaitu ikatan spiritual kita dengan Sang 

pencipta, bisa disebut dimensi keimanan manusia.

    Menurut pandangan Kuntowijoyo pondasi dari kedua nilai ini (humanisasi dan liberasi) ada pada transendensi, dengan kata lain 

transendensi ini adalah tiang utama. Rancangan transendensi ini harus bisa menjadi proses untuk mewujudkan harapan Kuntowijoyo 

yaitu konsep profetik. 

     Tujuan transendensi ini adalah menambah dimensi transendensi dalam kebudayaan yang sekarang ini sudah banyak mengarah pada 

arus materialisme, hedonisme, dan budaya dekaden. Kemudian untuk mengatasi hal ini, maka harus dilakukan pembersihan nafsi dengan

mengingat lagi fitrah kemanusiaan yang sebenar - benarnya dan merasakan kembali dunia ini sebagai rahmat Allah. 

    Parameter transendensi adalah mengakui adanya kekuatan supranatural, berusaha untuk dekat dengan allah dan ramah terhadap 

lingkungan secara istiqomah dengan untuk memuji keagungan Allah, berupaya memperoleh kebaikan dan keberkahan Allah,

mengembalikan sesuatu kepada kemahakuaan-Nya, memahami suatu keajaiban dengan pendekatan mistis, berperilaku, bertindak sesuai 

dengan ajaran islam, dengan mengharap ridha Allah, serta menerima dengan ikhlas setiap masalah yang ada.

 

Daftar Pustaka

 Hani’ah, Z. (2018). Implementasi nilai-nilai pendidikan profetik dalam meningkatkan kualitas pembelajaran IPS kelas VII di MTsN 1 Malang (Doctoral dissertation, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim).

 Ilmi, M. (2020). Implementasi nilai-nilai pendidikan profetik dalam pembentukan karakter siswa melalui pembelajaran IPS di SMP Brawijaya Smart School (Doctoral dissertation, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim).

 Islamy, A. (2021). Paradigma Sosial Profetik dalam Bermuamalah di Media Sosial. Tadbir: Jurnal Manajemen Dakwah FDIK IAIN Padangsidimpuan, 3(1), 83-104.

Masduki, M. (2017). Pendidikan profetik; Mengenal gagasan ilmu sosial profetik Kuntowijoyo. TOLERANSI: Media Ilmiah Komunikasi Umat Beragama, 9(1), 1-22.

Maskur, M. (2012). Ilmu Sosial Profetik Kuntowijoyo (Telaah atas Relasi Humanisasi, Liberasi dan Transendensi) (Doctoral dissertation, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar).

Muttaqin, H. (2016). Menuju Sosiologi Profetik. Jurnal Sosiologi Reflektif, 10(1), 219-240. 

Ruslan, R. (2016). Ilmu Sosial Profetik: Studi Terhadap Pemikiran Kuntowijoyo (Doctoral dissertation, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar).

.


 

 

 

Jumat, 09 Juni 2023

Reaktualitas Kapasitas Dan Kapabilitas Untuk Inklusifitas Perkaderan

 Reaktualitas Kapasitas Dan Kapabilitas Untuk Inklusifitas Perkarderan

Oleh: Klarisa Salsa Bila Maharani 

        IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) didirikan di yogyakarta pada tanggal 14 maret 1964 (29 Syawal 1384 H ) . Organisasi otonom tingkat mahasiswa pada PTM maupun non-PTM yaitu IMM memiliki nilai sejarah, ideology dan pergerakan yang berhubungan erat dengan Muhammadiyah. Kelahiran IMM yang dipengaruhi oleh dua faktor yaitu ekstern dan intern. Dibubarkannya wadah mahasiswa islam yaitu HMI pada masa itu yang mengakibatkan desakan dari ekstern untuk terbentuknya wadah baru bagi mahasiswa sedangkan Faktor Intern yang berasal dari kepentingan kelanjutan gerakan muhammadiyah itu sendiri karena pada masa soekarno organisasi harus diakui dan memperoleh dukungan yang kuat dari masyarakat maka dari itu IMM adalah salah satu usaha muhammadiyah untuk memperluas dukungan masyarakat hal seperti ini tidak hanya dilakukan oleh muhammadiyah saja akan tetapi juga juga dilakukan oleh pergerakan lainnya untuk membentuk oranisasi-organisasi penunjang. IMM bukanlah sebagai pengganti HMI akan tetapi IMM ini yang ingin membantu eksistensi HMI dan mempertahankan dari rong-rongan PKI yang ingin membubarkannya menurut Noor Chozin Agham. Kesimpulannya adanya IMM bukanlah sebuah ketidaksengajaan akan tetapi IMM dibentuk karena IMM dianggap penting daam
menjalankan perkaderan Muhammadiyah. IMM memiliki tujuan mengusahakan terbentuknya akademisi islam berakhlak mulia dalam rangka terwujudnya tujuan muhammadiyah. Dalam sisi history, ideology dan gerakan IMM pun tidaklah jauh bahkan berhubungan erat dengan muhammadiyah, yang dimana Muhammadiyah memiliki tujuan menjunjung tinggi Agama islam sehingga terwujud masyarakat islam yang sebenarbenarnya. Demi mencapai itu IMM menyusuan rancangan perkaderan yang memiliki prinsipprinsip metodologi perkaderan yang tercantum dalam SPI(Sistem Perkaderan Ikatan). Hal pertama yang ada didalamnya adalah internalisasi ideology yang memilki 3 kompenen dalam membina kader IMM yaitu Tahap transfer nilai, Tahap transaksi nilai, Tahap transformasi.

        Ortom yang telah berumur 58 tahun ini sudah mengukir sejarag panjang di Indonesia dan banyak sekali pemikiran-pemikiran sebagai ideology gerakan. Tri Kompetensi Dasar salah satunya, yak yang dikenal dengan TKD ini sudah dikenalkan ke mahasiswa sejak Masta bahkan dihapahamkan lagi di sekolah perkaderan penunjang DAD, tidak sampai situ saja bahkan TKD ini dibahas lagi di DAD. Ideology ini terus diulang-ulang agar tertanam di diri kader bukan hanya sebuah bacaan atau tulisan yang berada di internet atau buku-buku IMM. Akan tetapi realita di lapangan sekarang ideology-ideology imm hanyalah sebagai pajangan di internet, buku-buku, pembahasan yang kurang didalami bahkan di aplikasikan dalam kehidupan kita ber-IMM. Menurut pandangan saya ideology IMM memudar dan perkaderan pun menurut saya masih mengalami kegagapan padahal covid-19 telah usai, semua hal sudah dilakukan sudah mulai offline, lalu apakah yang salah ? yang menjalankan perkaderankah atau siapa?. Perkaderan adalah suatu hal yang penting dan pondasi awal untuk menanamkan ideology agar lebih ikhlas dalam berorganisasi dan secara maksimal dan muwejudkan tujuan IMM itu sendiri.

        Religiusitas,Intelektualitas dan humanitas adalah Tri Kompetensi Dasar IMM. Ketiga hal ini yang mulai pudar di IMM, kita bahas dari religiusitas, religusitas yang berarti keagamaan ini dari yang saya lihat mungkin hanya sedikit yang menerapkan dalam kehidupan, semisal apakah setiap sebelum rapat terdapat kultum dan membaca al-qur’an ? yak hal ini sebetulnyya cukup sepele akan tetapi sering diabaika, ini hanya perihal ketika rapat belum hal yang lain. Kita organisasi keislaman yang kurang berislam apakah itu benar ? padahal agama inilah yang sebagai tombak kit berorganisasi ini. Intelektualitas yang sering diartikan sebagai kemahasiswaan atau keilmuan, IMM salah satu ortom di tingkatan mahasiswa ini adalah harapan agar ilmu yang telah di dapat hingga tingkatan mahsiswa ini dapat bermanfaat dan disebarluaskan tidak hanya sebagai anganangan saja. Saya sering mendengar dari alumni IMM terdahulu bahwa IMM itu sering menulis sebuah buku atau artikel dsb, akan tetapi yang saya lihat saat ini tulisan IMM ini kian redup, bahkan ketika saya mencari tentang IMM yang keluar dari web yang ditulis tahu 2018, 2017, dan hanya sedikit tulisan dari tahun 2022, 2021. Lalu kemanakah IMM saat ini yang kurang terlihat ini?. TKD yang terakhir yaitu humanitas. Humanitas yang dikenal yang kemsyarakatan atau kemanusiaan menurut saya hal ini juga masih redup di zaman sekarang, apkaah IMM mulai masuk ke desa-desa dan melestarikan desa tersebut atau ke desa tersebut hanya sebatas proker dan bkan panggilan atau dasar kemanusiaan ?, Demo yang beberaa kali sering dilakukan apakah demo-demo
itu didasarkan oleh panggilan jiwa atau hanya untuk konten semata? Banyak sekali al yang perlu di renungkan dan mengembalikan ideology IMM agar tertanam didalam diri setiap kader. IMM dalam menyusun perkaderan telah di atur di dalam SPI bahkan SPI pun sekrang sudah ada yang baru untuk melengkapi SPI lama. Pada SPI lama yang lebih memuat tentang tata cara dan aturan aturan dalam melaksanakan perkaderan akan tetapi di dalam SPI yang baru menurut yang
saya baca lebih ditekankan kepada pemahaman pemahaman istilah istilah perkaderan yang belum dijelaskan di SPI lama, bahkan di SPI baru pun diawali dengan ayat perkaderan, ayat –ayat tersebut sebagai alasan kita mengapa melakuakn perkaderan dan begitu pentingnya kita melakukan perkaderan. Kedua SPI tersebut saling melengkapi satu sama lain untuk menyempurnakan system perkderan di IMM ini. Lalu siapa kah yang menjalankan perkaderan ini? Yang menjalankan perkaderan ini selama saya di IMM yaitu kader yang sudah DAD yang dibukikan dengan syahadah dan telah menjadi pimpinan maka merekalah yang akan melakukan transfer ideology, ilmu dsb, hal tersebut juga sudah dijelakan diSPI baru untuk lebih rincinya. Pintu utama untuk masuk ke IMM adalah DAD yang dibantu oleh fasilitaor yaitu instruktur. Isntruktur adalah kader yang telah melakukan perkaderan khusus minimal LID atau tingkatan dasar. Instruktur ini sangatlah penting karena instruktur lah yang akan meningkatkan jiwakritis kader, menganalisis kader, dan menyusun rencana dan berbagai racikan agar kader itu lahr sesuai dengan yang diinginkan. Peran instruktur yang tidak main-main mengakibatkan pundak instruktur yang berat dan harus selalu mengupgrade dirinya untuk menjadi lebih baik agara bisa melahirkan kader kader yang militan dan sebagainya. Instruktur bukanlah suatu peran yang mudah akan tetapi suatu tugas yang mulia dan insya allah amal jariyah.

        Instruktur yang tertulis di SPI baru ada 8 yaitu the diagnostic function, the planning function, the facility function, the educationa function, the motivational function,the managerial function, the resource function, the evaluate function. 8 fungsi instruktur ini harus dimilikioleh instruktur dari awal yaitu instruktur harus bisa mendiagnosa kader, kemudian membuat rencana dengn diagnose yang telah ada, kemudian memfasilitasi kader tersebut untuk berkembang dengaan segala konsepan dan renacana yang sudah dibentuk, mendidik atau sebagai sarana belajar bagi kader maka keilmuan instruktur harus sellau di upgrade sesuai kebutuhan ader dan memenuhi perkembangan jaman, instruktur sebagai motivator untuk menumbuhkan gairah dan semangat belajar dan berkembang. Insruktur sebagai managerial meliputi 4 yaitu perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan kepemimpinan, resource function ini adalah fungsi riset yang dimana setelah melakukan pembelajaran dsb, instruktur meriset rumusan tujuan, pengumpulan dan pengolahan datadan interprestasi hasil, evaluate function adalah ketika semuanya informasi dikumpulkan dan di evaluasi dari hal yan pertama hingga akhir. Fungsi inni untuk mengetahui keefektifan program perkaderan yang telah dibuat.

        Tema PID kulon progo kali ini yang menyongsng tema dengan mewujudkan instruktur inklusif berkemajuan, inklusif berkemajuan yang telah disongsong oleh DPP IMM periode 2022-20233 agar lebih terbuka dan bisa berkolaborasi dengan yang lain sehingga tidak terkesan tertutup atau menutup diri, dengan adanya kolaborasi diharapkannya akan lebih terbuka dan bisa berdampak ke kemajuan islam itu sendiri. Ketika ingin menyimpulkan ideal nya instruktur yang dimana instruktur kah disini sebagai tokoh utama perkderan akan tetapi saya masih kurang mengetahui isi dalam nya instruktur itu sendiri dan saa rasa di dalam SPI baru sudah rinci sekali dan sudah sangat ideal seseorang instruktur itu maka dari itu kita berusaha untk mewujudkan peran-peran instruktur itu agar maksimal. Yang intinya meningkatkan kapasitas isi dari instruktur tersebut dari sei ilmu, wawasan dan pengalaman yang bisa didapat dariperkaderan pendukung lainnya agar bisa memaksimalkan peran instruktur tersebut.

Daftar pustaka

Dewan Pimpina Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. 2011. Sistem Perkaderan Ikatan. Jakarta

Syifa.2021”Inklusif berkemajuan, DPP IMM Periode 2021-2023”, https://muhammadiyah.or.id/inklusif-berkemajuan-tujuan-dpp-imm-periode-2021-2023/, diakses pada 09 November 2022 pukul 19.10 wib