SONGSONG MASA DEPAN DENGAN INKLUSIVITAS
Oleh : Valentina Febri Marzalena
- Pendahuluan
- Isi
- Kesimpulan
- Daftar Pustaka
Kritis, Kreatif, Inovatif... Menolak Tunduk dan Bangkit Melawan...!! Fastabiqul Khairot..!!!
SONGSONG MASA DEPAN DENGAN INKLUSIVITAS
Oleh : Valentina Febri Marzalena
Membangun Sikap dan Semangat Inklusifisme Menuju IMM Kolaboratif dalam Menjawab Tantangan Zaman
Disusun Oleh : Rabiatul Adawiya
PENDAHULUAN
Di era sekarang ini sangat penting bagi kita untuk menggelorakan semangat inklusifisme dan mempunyai sifat inklusif, karena sadar atau tidak sadar mulai munculnya gejala ekskusivisme ditengah tengah masyarakat, tidak terkecuali di kalangan anak muda. Contoh sederhananya adalah munculnya circle - circle pertemanan yang mereka hanya mau berteman dengan orang yang dianggap kaya, keren, atau orang menduduki status sosial tinggi, hal ini lah yang nantinya akan menyebabkan kecemburuan sosial. Gejala eksklusivisme juga mempunyai dampak negatif yang salah satunya adalah dapat memecah belah persatuan. Maka dari itu pentingnya memiliki sifat inklusif adalah untuk mencegah terjadinya suatu perpecahan, dan mencegah dampak negatif lain dari adanya eksklusivitas. Sifat inklusif juga akan mempermudah kita dalam menjalin hubungan dan kerjasama yang baik bersama kelompok lain dengan segala perbedaan yang ada. Dengan kata lain kita dapat menghancurkan tembok perbedaan antar kelompok untuk berkolaborasi mewujudkan tujuan besar yang dicita - citakan bersama.
Lalu bagaimana kita dapat menerapkan sikap inklusif ini dalam ber - IMM? Belum lagi sejatinya IMM melahirkan untuk menjawab tantangan zaman dan sebagai wadah peningkatan intelektual mahasiswa. Dengan fenomena yang ada saat ini Indonesia berada dipusaran revolusi 4.0 yang akan menjelang tantangan dan zaman baru society 5.0. pengguliran zaman ini akan menjadi persoalan fundamental bagi kader - kader IMM agar bersiap melakukan gerakan perubahan, demi menyambut era societary 5.0. Untuk itu para kader IMM perlu mengobarkan semangat dan dedikasi yang tinggi dalam memberikan ide dan gagasan untuk merealisasikan Tri kompetensi dasar IMM agar tetap eksis menuju era society 5.0.
PEMBAHASAN
Sebelum membahas lebih lanjut perlu kita ketahui bersama apakah itu sikap inklusif. Sikap inklusif adalah sikap keterbukaan seseorang atau kelompok pada toleransi, menerima segala perbedaan serta dapat berinteraksi dengan keragaman budaya yang ada. Dengan kata lain, sikap ini memiliki arti menginginkan kebersamaan, meskipun mengakui adanya perbedaan. Sikap ini lah yang nantinya akan menumbuhkan rasa kebersamaan, gotong royong dan bahu membahu antar kelompok masyarakat.
Selain pentig bagi kita memiliki sikap inklusif ini, kita juga perlu menularkan sikap ini kepada orang lain agar didalam diri mereka juga tertahan sikap inklusif. Lantas bagaimana caranya? Pertama, terapkan sikap inklusif ke kehidupan sehari hari dan jadilah panutan yang baik. Ketika kita berbuat baik tidak dipungkiri akan ada pula orang yang terpengaruh terhadap perbuatan baik kita, lalu dia juga akan mengikuti apa yang kita lakukan. Walaupun tidak semua orang dapat terpengaruh oleh perbuatan kita itu, namun setidaknya kita telah berhasil menarik segelintir orang untuk berbuat demikian. Kemudian jika segelintir orang tersebut menerapkan dikehidupan sehari harinya, kemungkinan orang lain juga akan bisa tertular oleh sikapnya itu. Yang kedua, sesekali ajak lah diskusi mengenai perbedaan dan persamaan yang terlihat dilingkungan sekitar. Ketika diskusi itu berlangsung buat lah orang tersebut tidak membenci perbedaan yang ada melainkan fokus lah pada apa yang bisa kita lakukan bersama dari adanya perbedaan dan keragaman itu untuk mewujudkan sesuatu yang luar biasa. Kemudian yang terakhir, jangan terlalu fanatik dengan kelompok. Di era sebelum kemerdekaan Indonesia sulit sekali bagi kita untuk mencapai kata "Merdeka" karen tidak adanya persatuan, masing - masing individu berjuang untuk daerah mereka sendiri. Sma halnya dengan saat ini, jika terlalu fanatik dengan satu kelompok tertentu maka kita hanya akan fokus dan mementingkan kelompok itu. Padahal ada hal yang lebih besar kita dapatkan jika itu bersatu dan berkolaborasi.
Nah dari adanya sifat inklusif ini dapat melahirkan kata kolaborasi, karena orang yang memiliki sifat inklusif sejatinya suka bergotong roying dan bahu membahu. Sifat inklusif ini perlu diterapkan dalam ber-IMM, apalagi sejatinya IMM dilahirkan untuk menjawab tatangan zaman dimana diperlukan ketrampilan berpikir kritis, kreatif, komunikatif, dan kolaboratif. Fenomena saat ini Indonesia berada di pusaran revolusi industri 4.0 dimana era penerapan terknologi modern yang bekerja disetiap aktivitas ekonomi dari produksi hingga konsumsi. Ketua Umum DPP IMM, Najih Prastiyo mengatakan, kekuatan pertama yang harusdimiliki oleh kader IMM adalah kemampuan unggul dalam segi penugasan teknologi. Menurut dia, harus diakui saat ini kader IMM masih lemah dalam penuguasaan teknologi. Buktinya, Go-jek atau Alibaba misalnya, bukanlah hasil karya anak - anak IMM. Lalu bagaimana kader IMM bisa menguasai teknologi masa kini? Selain memperdalam intelektual dibidang tersebut, IMM juga perlu berkolaborasi dan mempunyai partner yang mempuni dibidang IT intuk dapat memperkuat dan mengektualitasikan niatnya dalam menguasai teknologi.
Kemudian kekutan kedua yang harus dimiliki kader IMM dalah kemampuan di bidang entrepreneurship. Dalam dunia bisnis, berkompetensi adalah hal yang wajar. Bersaing dan beradu kecepatan untuk membuktikan sipa yang paling terdepan adalah suatu keharusan . Namun, tidak berarti tanpa kompetensi, seorang [elaku usaha tidak bisa menggapai kesuksesan. Bagaiamana jika kita putar pola pikir kita. Mengubah kompetensi menjadi kolaborasi, mengubah persaingan menjadi kerja sama untuk mencapai tujuan. Saat ini, sudah banyak usaha berhasil meraih kesuksesan lewat kolaborasi. Contoh saja Oreo x Supreme yang beberapa waktu lalu ramai diperbicangkan masyarakat. Selian itu ada juga kolaborasi antaa samsung dan BTS yang kabrnya berhasil menjual habis produknya dalam waktu kuranf dari 1 jam setelah pre-order resmi dibuka di Korea Selatan. Contoh - contoh diatas bisa kita jadikan bukti bahwa pengaruh kolaborasi sangat kuat jika diterapkan didunia bisnis.
Belum lama larut dalam euforia industri 4.0, kita sudah mendengar istilah Society 5.0 yang artinya integrasi melalui duni maya ke dunia nyata berbasis teknologi. Dimana dalam mempersiapkan era society 5.0 ini intelektualitas sangat dikedepankan, kita dituntut agar memiliki kemampuan memecahkan masalah kompleks, berpikir maju, kritis, kreatif dan berinovasi baru. Untuk merespon hal ini dilakukan kolaborasi antara dunia industri, akademis dan masyarakt untuk mengidentifikasi permintaan dan ketersediaan skill bagi era digital di masa depan. maka dari itu hal utama yang perlu dipersiapkan para kader IMM dalam menjawab tantangan zaman adalah meningkatkan kualitas dirinya sendiri, baik dalam hal sikap, intelektual, dan ketaatan Allah.
PENUTUP
Inklusifisme merupakan fitnah yang telah dititipkan oleh tuhan kepada setiap manusia agar dapat membangun, kerukunan, kebersamaaan, dan keadilan. Untuk itu semestinya dalam diri kader IMM pun sudah tertanam sikap inklusif, kta hanya perlu menerapkan sikap tersebut dalam ber-IMM juga dalam bermasyarakat. Dan kita semua tahu tidak mudah bagi kader IMM untuk menghadapi tantangan zaman, selain diperlukan sikap inklusif dan beberapa skill yang nantinya akan diterapkan kita juga harus tetap berpegang pada Tri kompetensi dasar. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sejauh ini semakin tidak terkontrol, terbukti dengan semakin maraknya pekerjaan manusia yang disabotase oleh mesin maupun teknologi canggih lainnya. Maka tidak menutup kemungkinan suatu saat manusia akan kehilangan nilai sosial dan ruh gotong royong yang seharusnya menjadi ikon peradaban bangsa Indonesia. Dan hal itu bisa saja merongsong sistem kolektifitas IMM, dan bisa mengakibatkan lumpuhnya pergerakan hingga mematikan nilai fastabiqul khoirot. Maka sebenarnya tantangan internal IMM di era society 5.0 adalah Tri kompetensi dasar itu sendiri, mengingat rumusan - rumusan yang ada didalam Tri kompetensi dasar sudah menjadi kebutuhan utama peradaban umat manusia dari masa ke masa, maka Tri kompetensi dasar IMM hari ini akan menjadi tantangan sekaligus peluang untuk menghadapi era society 5.0 ini.
DAFTAR PUSTAKA
Adam, A. W. (2004, Febuari). Menuju Indonesia Maju yang Inklusif.
Rompies, J. K. (2021, November). 5 Cara Menanamkan Sikap Inklusif pada Anak Sejak Usia Muda.
Official, D. (2021, April). Peran IMM Menjawab Tantangan Zaman.
IMPLIKASI KAUM MERAH DALAM TRILOGINYA
Oleh : Fathiya Nur'aini Azizah
A. Pendahuluan
IMM atau Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah merupakan organisasi otonom di bawah Muhammadiyah.Organisasi ini lahir pada tanggal 14 maret 1964/29 Syawal 1384 di Yogyakarta. Sesungguhnya ada dua faktor integral yang melandasi kelahiran Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern yaitu faktor yang terdapat di dalam diri Muhammadiyah itu sendiri, sedangkan faktor ekstern yaitu faktor yang berawal dari luar muahammadiyah, khususnya umat Islam di Indonesia dan pada umumnya apa yang terjadi di Indonesia. Faktor intern, lebih dominan dalam bentuk motivasi idealisme, yaitu motif untuk untuk mengembangkan ideologi Muhammadiyah, yaitu faham cita - cita Muhammadiyah. Dengan restu PP Muhammadiyah waktu itu diketahui oleh H.A. Badawi, dengan penuh bijaksana dan kearifan mendirikan organisasi yang khusus untuk Mahasiswa Muhammadiyah yang diketahui oleh Drs. Moh. Djazman sebagai koordinator dengan anggota M. Husni Thamrin, A. Rosyad Saleh, Soedibjo Markoes, Moh. Arief dll. Jadi pendiri Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah dan pencetus nama IMM adalah Drs. Moh. Djazman Al - kindi yang juga merupakan koordinator dan sekaligus ketua pertama muktamar IMM ynag pertama pada 1 - 5 Mei 1965 di Kota Barat, Solo.
B. Isi
Kelahiran IMM seringkali dikaitkan dengan rencana dibubarkan HMI oleh pemerintahan Soekarno yang mendapat sokongan dari PKI pada saat itu. Namun, Farid Fathoni, penulis buku "Kelahiran yang Dipersonalkan" menegaskan bahwa kelahiran IMM merupakan sebuah keharusan di Muhammadiyah yang merupakan kehendak sejarah. Kehadirannya sangat diharapkan menjadi sebuah regenerasi umat yang memiliki akhlak mulia dan menjadi sebuah wadah bagi mahasiswa untuk mewujudkan Islam yang sebenar - benarnya. Dari pernyataan tersebut diatas dapat kita simpulkan sebagaimana salah satu tulisan Ahmad Janan Febrianto, Instruktur DPD IMM DIY pada buku 'Tak Sekedar Merah : Memoar dan Testimoni Kader IMM' menuliskan bahwa IMM adalah salah satu organisasi otonom Muhammadiyah yang merupakan sebuah wadah berkumpul berjuang untuk menggerakkan dan membina potensi mahasiswa Islam guna meningkatkan peran dan tanggung jawabnya sebagai kader persyarikatan (Muhammmadiyah). IMM disebut juga gerakan mahasiswa Islam yang bergerak dalam bidang keagamaan, kemahasiswaan, dan kemasyarakatan. Adanya klasisfikasi ranah gerakan mahasiswa menunjukkan bahwasannya IMM mempunyai bergaining posisi yang jelas, disamping sebagai gerakan mahasiswa juga sebagai sebuah organisasi otonom Muhammadiyah yang secara ideologi sama dengan Muhammadiyah yaitu berakidah Islam bersumber Al - Quran dan As - Sunnah.
Kelahiran IMM dianggap babak baru perjuangan AMM (Angkatan Muda Muhammadiyah), karena keinginan tersebut selalu tertunda yang barangkali tidak bisa dihindari sebagai kehidupan berbangsa dan bernegara, baik dalam menghadapi kemerdekaan maupun belum tersediannya infrastruktur. Organisasi termasuk belum banyaknya Perguruan Tinggi Muhammadiyah. Adanya PTM sebagai ladang Muhammadiyah dalam bidang pendidikan yang tentunya membutuhkan kader yang mampu memberikan angin segar Muhammadiyah terhadap masyarakat kampus sebagai kaum intelektual: Keberadaan mahasiswa yang berada pada kelas menengah dan tercerahkan secara pemikiran, membutuhkan pola pendekatan yang lebih berbeda dari masyarakat awam pada umunya. Maka dari sinilah pentingnya kelahiran IMM, sebagai martir gerakan Muhammadiyah di kalangan kampus. Terlepas dari beberapa kalangan yang mengaitkan kelahiran IMM sebagai 'wadah penampung HMI' yang hendak dibubarkan, sebagaimana yang telah terjadi pada Partai Masyumi, jika ditinjau lebih dalam hal ini tak ada kaitannya sama sekali. Sebab Muhammadiyah memang membutuhkan "organisasi kader" yang mampu memberikan nafas dakwah Muhammadiyah di kalangan mahasiswa. Ditambah lagi dengan semakin menjamurnya keberadaan PTM saat ini, sehingga kelahiran dan keberadaan IMM bukan hanya sebagai kehendak sejarah melainkan pula keniscayaan dalam tubuh persyaratan Muhammadiyah.
Adanya keinginan Muhammadiyah membentuk perguruan tinggi pada Muktamar 1936 dan Muktamar Pemuda Muhammadiyah 1956 juga diiringi dengan keinginan menghimpun mahasiswa Muhammadiyah dalam satu wadah organisasi, tentu saja hal ini, hanya bisa terwujud dengan membentuk organisasi otonom Muhammadiyah. Sebagai tidak lanjut yang lebih progresif PP. Muhammadiyah membentuk Departemen Kemahasiswaan yang kemudian menjadi ihwal dari terbentuknya IMM. Jadi, membaca kelahiran IMM, tidak saja pada saat dideklarasikan kelahiran, apalagi gagasan kelahiran IMM tersebut sudah terlahir jauh sebelum desas - desus dibubarkan HMI.
Kelahiran IMM sangat erat kaitannya dengan enam penegasan IMM. Enam penegasan menjadi identitas yang selalu melekat erat pada tubuh organisasi dan kader IMM. Kelekatan tersebut dimulai sejak dideklarasikan pada saat Muktamar IMM di Kota Barat Solo, yang kemudian dikenal sebagai 'Deklarasikan Kota Barat'. Isi dari enam penegasan tersebut:
1. IMM adalah gerakan Mahasiswa Islam
2. Kepribadian Muhammadiyah adalah Landasan perjuangan IMM
3. Fungsi IMM adalah sebagai eksponen mahasiswa dalam Muhammadiyah (sebagai stabilisator dan dinamisator).
4. Ilmu adalah amaliah dan amal adalah Ilmiah IMM
5. IMM adalah organisasi yang syah-mengindahkan segala hukum, undang - undang, peraturan dan falsafah negara yang berlaku.
6. Amal IMM dilakukan dan dibaktikan untuk kepentingan agama, nusa dan bangsa
Keberadaan enam penegasan ini harus senantiasa dijadikan pedoman dalam gerakan IMM dalam segala sektor agar cita - cita mengusahakan terbentuknya akademisi Islam yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah dapat terwujud secara kolektif dalam tubuh organisasi dan kader IMM. Sebab yang menjadi pembeda IMM dengan organisasi lainnya adalah karena IMM merupakan sebuah gerakan mahasiswa Islam yang prinsip, gerakan dan kepribadiannya berlandaskan gerakan persyarikatan Muhammadiyah.
Pentingnya menyadari hakikat enam penegasan menjadi sangat penting. Karena ia sangat berkaitan dengan kepribadian IMM itu sendiri. Enam penegasan ini yang juga melahirkan trilogi IMM yakni, religiustas (keagamaan), intelektualitas (kemahasiswaan) dan humanitas (kemasyarakatan) yang harus dipakai tidak secara aspek nilai, melainkan juga dengan gerakannya. Enam penegasan harus menjadi basis perjuanagan IMM. Tidak secara secara konstitusional dalam tubuh organisasi, melainkan juga sebagai secara kolektif dalam diri kader. Sehingga segala bentuk gerakan IMM bisa dipahami secara menyeluruh dan mampu memberi efek perubahan yang positif bik dalam organisasi IMM, Muhammadiyah maupun umat. Adanya penafsiran dan koneksitas ilmu pengetahuan dalam gerakan IMM juga tidak kalah pentingnya agar budaya ilmu amaliyah dan amal ilmiah senantiasa terpelihara dan menjadi budaya serta gerakan kolektif dalam tubu IMM.
Berbicara mengenai trilogi, akan ada kesinambungan dengan Tri Kompetensi Dasar. Secara tidak langsung, Trilogi IMM merupakan sifat yang tersemat arau yang harus ada pada diri kader. Sedangkan Tri Kompetensi Dasar merupakan bentuk pengejawentahan dari Trilogi. Karena ada tiga kompetensi dasar yang harus diinternalisasikan ke dalam diri kader - kader IMM melalui trilogi, religiusitas menjadi keagamaan, intelektualitas menjadi kemahasiswaan dan humanitas menjadi kemanusiaan. Dan hal ini sudah barang tentu bukan hanya tulisan, sebuah pajangan, maupun pengikraran secara lisan, namun dibutuhkan aksi nyata dalam perbuatan.
C. Penutup
Akhir kata, seideal apaun konsep yang kita create untuk progresifitas IMM, tidak akan berarti apaun tanpa komitmen yang kuat hatiku mewujudkannya. Mudah mengatakan, tapi sulit melakukan bukan? Semangat menebar kebaikan! Kalau bukan kamu siapa lagi?! Kalau bukan dimulai dari diri sendiri, darimana lagi?!
Daftar Pustaka
Ginting, N., Pradesyah. R., Amini, A., & Panggabean, H. S. (2021). Memperkuat Nalar Teologi Islam Moderat Dalam Menyikapi Pandemi Covid - 19 Di Pimpinan Ranting Pemuda Muhammadiyah Bandar Pulau Pekan. Martabe: Jurnal Pengabdian Kepada Mayrakat, 4(1), 30 - 40.
Makrus, Cak. (Eds). (2013). Tak Sekadar Merah, Sebuah Memoar dan Testimoni Kader IMM. Yogyakarta : Rangkang Education.
Sedyo, Halim. (Eds). (2014). Genealogi Kaum Merah : Pemikiran dan Gerakan Yogyakarta : Rangkang Education.
MENGGAUNGKAN NILAI-NILAI PENDIDIKAN PROFETIK DI KALANGAN MAHASISWA
Oleh : AFIFAH ZAKIYATUL AULIA
Berbicara soal implementasi, berarti tidak jauh dari kata pengalaman. Teori apa yang telah kita dapatkan kemudian
Kita aplikasikan dalam kehidupan sehari - hari. Implementasi tidak bisa jauh dari kata pendidikan. Karena dengan
pendidikan kita mengetahui bagaimana pengalaman suatu ilmu dengan baik. Pendidikan saat ini menempati posisi yang
begitu penting untuk kehidupan manusia.
Pendidikan menenmpati peranan yang penting dalam membentuk suatu karakter. Pendidikan di negara kita mengalami
kondisi yang sulit. Globalisasi yang mulai diterima tanpa adanya penyaringan dan mempengaruhi banyak aspek pada
masyarakat terutama mahasiswa. Kemajuan ilmu teknologi dan pengetahuan yang terus diikuti oleh arus globalisasi yang
sangat berpengaruh terhadap pendidikan itu sendiri. Sehingga berdampak pada karakter yang dimiliki oleh bangsa ini
terutama kaum mahasiswa. Melihat permasalahan diatas, maka sangat perlu diaplikasikan melalui pendidikan non formal,
informal maupun formal.
Demi memunculkan pendidikan yang tepat bagi bangsa Indonesia, maka perlunya memasukkan nilai - nilai pendidikan
profetik di dalamnya. Ketika misi kenabian diangkat sebagai pondasi pengembangan. Pendidikan Nabi tersebut mempunyai
tujuan tersendiri yaitu membangun sebuah karakter, mulai dari penanaman tauhid sejak dini, kemudian pembentukan karakter
positif sebagai langkah awal membangun jati diri yang kuat dalam hal keyakinan (akidah) dan mental (Muflichul Ilmi, 2020).
Mengenai hal itu, seorang intelektual bernama Kuntowijoyo menyampaikan bahwa ilmu sosial profetik itu penting dan
diperlukan untuk kemajuan pendidikan karena ilmu profetik dapat mengganti sesuai landasan cita - cita etik dan profetik
(Muflichul Ilmi, 2020).
Banyak dari mahasiswa yang tidak mengetahui hasil pemikiran dari Kuntowijoyo ini, yaitu ilmu sosial profetik. Nah, ilmu
sosial profetik ini terdiri dari tiga kata, yaitu ilmu, sosial, dan profetik. Ilmu merupakan campuran dari banyak pengetahuan yang
diatur secara rasional (logis) dan bersistem dengan menghitungkangejala rasional kaulisatik. Sosial adalah ilmu yang berkaitan
berkaitan tentang aktivitas manusia dalam kehidupan bersama. Dan profetik itu sendiri diambil dari bahasa inggris yaitu prophet
yang artinya nabi. Profetik ini mengandung makna kenabian atau sifat yaitu melekat dalam diri nabi (Maskur, 2012). Maka dapat
kita simpulkan bahwa ilmu sosial profetik adalah ilmu yang tidak hanya menjelaskan dan mengubah fenomena sosial tapi memberi
petunjuk akan dibawa kemana perubahan itu dilakukan berdasarkan cita - cita masyarakat ideal yang diinginkan.
Pendidikan profetik adalah pemindahan pengetahuan dan nilai kenabian yang memiliki tujuan untuk memebentuk moral,
membentuk akhlak, mendekatkan diri pada Allah serta alam dan memahami untuk membangun khoira ummah sehingga
tercapainya pribadi yang intelektual, emosional, akhlak dan moral yang berkembang utuh.
Kuntowijoyo merumuskan bahwasanya pendidikan profetik termuat oleh tiga pilar (nilai dasar) yaitu humanisasi, liberasi, dan
transendensi. Humanisasi ini biasanya disebut amar ma'ruf yang memuat arti kemanusian manusia. Leberasi ini diambil nahi
munkar yaitu kebebasan. Sedang transendensi adalah ukuran dari keimanan manusia. Ketiga nilai ini memiliki implementasi
Tiga nilai ini termaktub dalam Al - Qur'an surah Ali Imran ayat 110:
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ
بِاللَّهِ ۗ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ ۚ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ
Artinya: "Kamu (umat Islam) adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang
makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi
mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang - orang fasik." (Ali Imran: 110).
Kalau kita telisik lebih dalam ayat ini, maka kita akan mendapatkan empat hal tersirat, yaitu bagaimana menjadi umat terbaik,
apa peran umat dalam sejarah, bagaimana pentingnya kepekaan, dan apa pentingnya etika profetik. Pertama, sering kita sebut
khoira ummah. Kedua, aktivisme sejarah atau sering kita sebut ukhrijat linnas yaitu peran umat dalam sejarah karena islam adalah
agama amal. Ketiga, pentingnya kepekaan serta kesadaran.
Untuk menjelaskan lebih detail mengenai tiga poin pendidikan profetik maka berikut penjelasannya:
1. Humanisasi
Diambil dari bahasa Inggris yaitu human yang artinya manusia, humane berarti peramah, dan humanism berarti perikemanusiaan.
Nilai humanisasi adalah salah satu pondasi paradigma Ilmu sosial profetik (ISP) yang berlandaskan dari ajaran Islam yang berupa
amar ma'ruf (menegakkan kebenaran) (Athoillah Islamy, 2021). Humanisasi sangat dibutuhkan karena masyarakat sedang berada
dalam tiga fase yang akut yaitu dehumanisasi (obyektivasi teknologis, ekonomis, budaya, dan negara), loneliness (Privatisasi,
individuasi), dan agresivitas (agresivitas kolektif dan kriminalitas) (Masduki, 2017).
Parameter humanisasi adalah memanusiakan manusia, dapat menjaga ukhuwah walaupun berbeda keyakinan, tadisi, dan
lain - lain, menilai seseorang secara menyeluruh meliputi aspek fisik dan psikisnya, sehingga adanya rasa saling hormat, kekerasan
dalam bentuk apapun harus dihapuskan, serta menghapuskan kebencian kepada sesama.
2. Liberasi
Liberasi ini dalam bahasa latin "liberare" yang artinya membebaskan. Kuntowijoyo menyebutkan liberasi adalah pembebasan
terhadap semua yang berkonotasi dengan signifikasi sosial seperti mencegah menggunakan obat terlarang, memberantas judi, dan
memperjuangkan nasib buruh dan melawan penjajah.
Nahi munkar berarti pembebasan manusia atas penganiayaa, pembebasan atas kedzaliman, dan pembebasan dari segala bentuk
aspek yang merendahkan manusia. parameter liberasi adalah memihak pada kepentingan umum, orang kecil, dan kelompok
mustad'afiin, menegakkkan keadilan, menghilangkan kebodohan dan keterbelakangan sosial - ekonomi, dan menghapus berbagai
bentuk penindasan.
3. Transendensi
Transendensi terdapat pada bahasa latin yaitu "transendence" artinya melampau ke atas, sedang dalam bahasa inggris
"to transendence" yaitu sangat atau melebihi. Transendensi ini bisa disebut hablumminAllah yaitu ikatan spiritual kita dengan Sang
pencipta, bisa disebut dimensi keimanan manusia.
Menurut pandangan Kuntowijoyo pondasi dari kedua nilai ini (humanisasi dan liberasi) ada pada transendensi, dengan kata lain
transendensi ini adalah tiang utama. Rancangan transendensi ini harus bisa menjadi proses untuk mewujudkan harapan Kuntowijoyo
yaitu konsep profetik.
Tujuan transendensi ini adalah menambah dimensi transendensi dalam kebudayaan yang sekarang ini sudah banyak mengarah pada
arus materialisme, hedonisme, dan budaya dekaden. Kemudian untuk mengatasi hal ini, maka harus dilakukan pembersihan nafsi dengan
mengingat lagi fitrah kemanusiaan yang sebenar - benarnya dan merasakan kembali dunia ini sebagai rahmat Allah.
Parameter transendensi adalah mengakui adanya kekuatan supranatural, berusaha untuk dekat dengan allah dan ramah terhadap
lingkungan secara istiqomah dengan untuk memuji keagungan Allah, berupaya memperoleh kebaikan dan keberkahan Allah,
mengembalikan sesuatu kepada kemahakuaan-Nya, memahami suatu keajaiban dengan pendekatan mistis, berperilaku, bertindak sesuai
dengan ajaran islam, dengan mengharap ridha Allah, serta menerima dengan ikhlas setiap masalah yang ada.
Daftar Pustaka
Hani’ah, Z. (2018). Implementasi nilai-nilai pendidikan profetik dalam meningkatkan kualitas pembelajaran IPS kelas VII di MTsN 1 Malang (Doctoral dissertation, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim).
Ilmi, M. (2020). Implementasi nilai-nilai pendidikan profetik dalam pembentukan karakter siswa melalui pembelajaran IPS di SMP Brawijaya Smart School (Doctoral dissertation, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim).
Islamy, A. (2021). Paradigma Sosial Profetik dalam Bermuamalah di Media Sosial. Tadbir: Jurnal Manajemen Dakwah FDIK IAIN Padangsidimpuan, 3(1), 83-104.
Masduki, M. (2017). Pendidikan profetik; Mengenal gagasan ilmu sosial profetik Kuntowijoyo. TOLERANSI: Media Ilmiah Komunikasi Umat Beragama, 9(1), 1-22.
Maskur, M. (2012). Ilmu Sosial Profetik Kuntowijoyo (Telaah atas Relasi Humanisasi, Liberasi dan Transendensi) (Doctoral dissertation, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar).
Muttaqin, H. (2016). Menuju Sosiologi Profetik. Jurnal Sosiologi Reflektif, 10(1), 219-240.
Ruslan, R. (2016). Ilmu Sosial Profetik: Studi Terhadap Pemikiran Kuntowijoyo (Doctoral dissertation, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar)..